Kata pengantar: Kompetisi Divisi I Nasional sudah usai. Kesebelasan Persiku yang pasang target lolos Divisi Utama harus terima kenyataan duduk diurutan 2 dari buncit. Tifosi Persiku yang tinggal di Desa Kaliputu M Basuki Sugita mengupas kegagalan dan harapan masa depan Laskar Macan Muria dalam 2 tulisan yang diturunkan mulai hari ini.
(1)
PERSIKU PERLU TIRU SUKSES ATHLETIC BILBAO
Suara Merdeka, 1 dan 2 Agustus 2006
Harapan setinggi langit segenap masyarakat Kudus dan pengurus Persatuan Sepakbola Indonesia Kudus (Persiku) melihat tim kesayangan mereka berlaga dikompetisi Divisi Utama musim depan, pupus sudah. Alih-alih lolos sesuai target duduk diurutan terhormat saja tidak mampu dilakoni Laskar Macan Muria. Menyedihkan memang.Hanafing yang sukses mengantar Macan Muria lolos ke Divisi I terpaksa digusur demi memberi jalan Riono Asnan.
Dari 9 tim di grup II Persiku terpaku diurutan 8 hanya lebih baik dibanding PSB Bogor. Macan Muria dari 16 kali main hanya mendulang 16 angka hasil 3 kali menang 7 imbang dan 6 kalah dengan selisih gol minus 15-23. Secara perhitungan kasar Persiku hanya mampu meraup 1 angka alias imbang selama kompetisi berjalan.
Hasil yang ditunjukkan Bambang Harsoyo dkk jelas suatu kegagalan. Semua lini pasukan asuhan Riono Asnan ini perlu dievaluasi supaya lebih bertaring dimusim mendatang. Menyaksikan Persiku tampil di stadion kebanggaan Wergu Wetan tersirat kurang determinasi selama 90 menit permainan.
Kegagalan itu tidak perlu diratapi namun dicari hikmahnya demi sukses di masa depan. Sejak awal target lolos Divisi Utama dari kacamata penulis tidak lebih dari asbun (asal bunyi) belaka. Ditinjau dari sejumlah sisi seperti pendanaan, suporter, peran aktif pemerintahan posisi Persiku kalah jauh dibanding tim lain di Divisi I seperti Persis Solo atau Persebaya Surabaya.
Kebijakan membeli pemain asing semacam Julius Jay Kwateh, Anthony Inihbon dan Mukete Wilfred tidak memberi distribusi berarti. Bisa diartikan pemain asing Persiku tidak lebih dari pemain lokal yang selama ini dimiliki Macan Muria. Cukup ironis pendanaan Persiku yang diambilkan dari uang rakyat justru untuk memberi makan pemain asing.
Pemain asing tentu dibayar lebih mahal dibanding pemain lokal. Untuk itu pemain asal Nigeria dan Kamerun yang dipunyai Persiku wajib mendukung skema permainan Macan Muria. Apa lacur semua angan-angan terbuang percuma. Mungkin yang tetap tertawa adalah agen dan sejumlah orang yang mendulang uang dari transfer pemain asing ini.
Fenomena pemakaian asing dipentas sepakbola internasional khususnya berkaitan globalisasi diera abad 21 ini. Klub seperti Barcelona, AC Milan atau Chelsea perlu dan butuh pemain asing karena pengelolaan klub sudah profesional. Sementara klub-klub di Tanah Air yang masih amatiran entah pentas di Divisi Utama, I atau bahkan II jor-joran membeli pemain asing.
Pengeluaran yang biasanya tidak sebanding dengan pendapatan klub tidak jadi masalah. Toh dana kurang masih bisa minta APBD yang biasanya jadi sumber utama klub jebolan Perserikatan semodel Persiku. Apakah pemain asing bisa memberi garansi prestasi klub yang dibelanya?
Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu belajar dari ranah sepakbola LA Liga Spanyol. Klub Athletic Bilbao sejak berdiri tahun 1898 tidak pernah sekalipun memakai jasa pemain asing. Bahkan pemain yang memperkuat Bilbao dipastikan berasal dari provinsi Basque tempat klub itu bernaung. Soal prestasi pantas dibanggakan. Bilbao 8 kali juara Liga, 23 kali merebut Super Copa dan masing-masing sekali merengkuh Piala Champion, UEFA, Winner Cup dan Interkontinental.
Klub yang bermarkas di San Memes berkapasitas 39.750 penonton ini tidak pernah degradasi ke divisi Segundo B disamping 2 raksasa Barcelona dan Real Madrid. Sampai detik ini Bilbao termasuk penyumbang tetap pemain nasional Spanyol. Di era 90 an siapa yang tidak kenal pemain gelandang menyerang berambut gondrong Julen Guerrero? Atau striker ganas Joseba Etxeberria ? Juga bek kiri Chelsea yang sekarang hengkang ke Valencia, Ansier del Horno? Mereka bertiga sedikit dari pemain jebolan Bilbao yang terkenal.
Determinasi, kebanggaan dan semangat “kedaerahan” yang begitu kental menjadi simbol sukses Bilbao selama ini. Kebanggaan tanpa pemain asing di Bilbao sama kentalnya dengan “kesucian” kostum bergaris pemain Barcelona yang belum sekalipun dipasangi iklan. Padahal puluhan perusahaan raksasa sudi membayar jutaan euro per tahun demi pasang iklan dikaos pemain El Barca.
Simbol sukses Bilbao tidak salah ditiru Persiku. Lebih baik membina pemain lokal di provinsi Jateng untuk memperkuat Persiku dibanding membuang dollar ke negara asing. Lagi pula dana yang dipakai selama ini murni milik rakyat. Toh Persiku sukses ke Divisi Utama Liga Indonesia pertengahan 90’an berkat kontribusi pemain lokal bukan asing. Supaya sukses Persiku perlu semangat baru semacam Bilbao. Pemain asing bukan jaminan mutu!!.
M BASUKI SUGITA: PENULIS TIFOSI SEJATI LASKAR MACAN MURIA, TINGGAL DI DESA KALIPUTU, KUDUS
(2)
MENGGAGAS “PERSIKU SUPER SOCCER KUDUS”
Pepatah Jawa mengatakan “jer basuki mowo bea” bisa diartikan untuk mendulang sukses butuh biaya dan pengorbanan yang tidak sedikit. Padahal selama ini-terus terang- justru masalah finansial menjadi batu sandungan tim jebolan Perserikatan semacam Persiku Kudus. Pendanaan suatu klub sepakbola entah tingkat nasional atau internasional jelas menyerap uang tidak sedikit. Sebagai gambaran klub Persija Jakarta saban tahun diguyur Gubernur Sutiyoso senilai Rp 40 miliar Mungkin kita pusing membayangkan pengeluaran biaya klub seperti Liverpoll.
Sumber dana klub internasional dari penjualan tiket terusan, hak siar televisi, menchardise/pernik-pernik klub seperti kaos, syal, gantungan kunci sampai gelas dan asbak bergambar klub. Sementara banyak klub di Tanah Air menggantungkan hidup dari dana APBD atau sumbangan donatur.
Kelemahan pengelolaan klub di Tanah Air adalah tidak berani melakukan inovasi pendanaan. Buntutnya pentas sepakbola profesional di Tanah Air berjalan lambat. Tidak terkecuali Persiku. Nasib sebuah klub tergantung APBD jelas tidak sehat. Pertimbangan politis penguasa daerah amat kental mewarnai perjalanan klub.
Sementara penjualan klub semodel Persiku bukan jalan bijak. Karena Persiku pada hakekatnya milik masyarakat bukan perorangan atau yayasan seperti Arema Malang. Kebijakan win-win solution perlu dipikirkan demi menyelamatkan nama baik Persiku Macan Muria Kudus. Dibanding klub lain seperti Persijap Jepara, Persibat Batang atau PSIR Rembang nasib Persiku relatif lebih baik.
Sejak 10 tahun silam sudah terdengar nada nyaring Persiku akan diambilalih sebuah perusahaan raksasa yang bergerak dibidang industri rokok kretek. Wacana ini perlu ditindaklanjuti karena menguntungkan banyak pihak. Namun entah kenapa wacana itu lenyap ditiup angina.
Tanpa penjelasan njlimet banyak pihak tahu bahwa yang dimaksud adalah PR (Perusahaan Rokok) Djarum. Ya apa salahnya Djarum mengambilalih kepemilikan Persiku.Djarum juga punya sasaran market penggemar fanatik sepakbola. Seandainya Djarum jadi meng-take over Macan Muria tanggungjawab Pemkab jadi ringan. Tentu sebuah peruhaan swasta sudi beri dana karena mereka butuh brand image positif. Dalam bahasa lain perusahaan tersebut butuh media untuk mengiklankan hasil produk langsung ke tangan konsumen.
Beberapa tahun kedepan iklan rokok akan semakin dibatasi. Setelah dibatasi dimedia cetak dan elektronik iklan rokok nanti tidak boleh bergerak bebas diruang terbuka. Tanpa iklan industri rokok akan kehilangan konsumen. Di Kudus rokok menyerap tenaga kerja ratusan ribu orang.
Industro rokok guncang ekonomi rakyat Kudus kena imbas juga. Jika take over terlaksana Pemkab tidak perlu kehilangan muka kalau saja Persiku berganti baju. Sebagai pemilik utama perusahaan swasta pasti merombak nama tim demi kepentingan bisnis. “Persiku Super Soccer Kudus” menjadi jawaban win-win solution yang menguntungkan semua pihak. Dari kaca mata masyaraka nama baru tanpa menanggalkan sejarah bahwa Persiku tetap milik wong Kudus. Super Soccer dipilih karena sudah jadi brand image dan dan dikenal luas konsumen.
Sementara penggemar fanatik bisa mengusung nama Super Soccer Mania yang terdiri dari beberapa laskar. Nanti masyarakat Kudus harus rela diatur manejemen baru yang pasti beda dengan pemilik lama. Modal tentu berusaha dikembalikan. Penjualan tiket tentu diefektifkan .Jangan semodel manejemen Persiku sekarang longgar mengeluarkan karcis bebas.
Aturan tegas dan jelas perlu didukung demi kebaikan perjalanan Persiku diisendiri. Misalkan sebuah penerbit cukup diberi 2 karcis bebas untuk wartawan berita dan foto. Sekarang ini saat Persiku main kandang dari bos sampai tukang sapu ramai-ramai nonton gratis.
Jika gagasan “Persiku Super Soccer Kudus” terwujud, alokasi dana APBD untuk sepakbola bisa dialihkan. Sedang manajemen baru bisa mengiklankan hasil produknya melalui sarana sepakbola. Perlu diingat sampai detik ini sepakbola tetap olahraga favorit di Tanah Air. Bagaimanapun Persiku perlu perombakan manajemen. Persiku bukan milik segelintir pengurus . Jangan sampai Persiku digerogoti pihak tak bertanggungjawab. Untuk itu tidak salahnya kita ucapkan welcome “Persiku Super Soccer Kudus”.
M BASUKI SUGITA: PENULIS TIFOSI SEJATI LASKAR MACAN MURIA TINGGAL DI DESA KALIPUTU, KUDUS