Arsip untuk persiku

persiku

Kata pengantar: Kompetisi Divisi I Nasional sudah usai. Kesebelasan Persiku yang pasang target lolos Divisi Utama harus terima kenyataan duduk diurutan 2 dari buncit. Tifosi Persiku yang tinggal di Desa Kaliputu M Basuki Sugita mengupas kegagalan dan harapan masa depan Laskar Macan Muria dalam 2 tulisan yang diturunkan mulai hari ini.

(1)

PERSIKU PERLU TIRU SUKSES ATHLETIC BILBAO

Suara Merdeka, 1 dan 2 Agustus 2006

Harapan setinggi langit segenap masyarakat Kudus dan pengurus Persatuan Sepakbola Indonesia Kudus (Persiku) melihat tim kesayangan mereka berlaga dikompetisi Divisi Utama musim depan, pupus sudah. Alih-alih lolos sesuai target duduk diurutan terhormat saja tidak mampu dilakoni Laskar Macan Muria. Menyedihkan memang.Hanafing yang sukses mengantar Macan Muria lolos ke Divisi I terpaksa digusur demi memberi jalan Riono Asnan.

Dari 9 tim di grup II Persiku terpaku diurutan 8 hanya lebih baik dibanding PSB Bogor. Macan Muria dari 16 kali main hanya mendulang 16 angka hasil 3 kali menang 7 imbang dan 6 kalah dengan selisih gol minus 15-23. Secara perhitungan kasar Persiku hanya mampu meraup 1 angka alias imbang selama kompetisi berjalan.

Hasil yang ditunjukkan Bambang Harsoyo dkk jelas suatu kegagalan. Semua lini pasukan asuhan Riono Asnan ini perlu dievaluasi supaya lebih bertaring dimusim mendatang. Menyaksikan Persiku tampil di stadion kebanggaan Wergu Wetan tersirat kurang determinasi selama 90 menit permainan.

Kegagalan itu tidak perlu diratapi namun dicari hikmahnya demi sukses di masa depan. Sejak awal target lolos Divisi Utama dari kacamata penulis tidak lebih dari asbun (asal bunyi) belaka. Ditinjau dari sejumlah sisi seperti pendanaan, suporter, peran aktif pemerintahan posisi Persiku kalah jauh dibanding tim lain di Divisi I seperti Persis Solo atau Persebaya Surabaya.

Kebijakan membeli pemain asing semacam Julius Jay Kwateh, Anthony Inihbon dan Mukete Wilfred tidak memberi distribusi berarti. Bisa diartikan pemain asing Persiku tidak lebih dari pemain lokal yang selama ini dimiliki Macan Muria. Cukup ironis pendanaan Persiku yang diambilkan dari uang rakyat justru untuk memberi makan pemain asing.

Pemain asing tentu dibayar lebih mahal dibanding pemain lokal. Untuk itu pemain asal Nigeria dan Kamerun yang dipunyai Persiku wajib mendukung skema permainan Macan Muria. Apa lacur semua angan-angan terbuang percuma. Mungkin yang tetap tertawa adalah agen dan sejumlah orang yang mendulang uang dari transfer pemain asing ini.

Fenomena pemakaian asing dipentas sepakbola internasional khususnya berkaitan globalisasi diera abad 21 ini. Klub seperti Barcelona, AC Milan atau Chelsea perlu dan butuh pemain asing karena pengelolaan klub sudah profesional. Sementara klub-klub di Tanah Air yang masih amatiran entah pentas di Divisi Utama, I atau bahkan II jor-joran membeli pemain asing.

Pengeluaran yang biasanya tidak sebanding dengan pendapatan klub tidak jadi masalah. Toh dana kurang masih bisa minta APBD yang biasanya jadi sumber utama klub jebolan Perserikatan semodel Persiku. Apakah pemain asing bisa memberi garansi prestasi klub yang dibelanya?

Untuk menjawab pertanyaan ini kita perlu belajar dari ranah sepakbola LA Liga Spanyol. Klub Athletic Bilbao sejak berdiri tahun 1898 tidak pernah sekalipun memakai jasa pemain asing. Bahkan pemain yang memperkuat Bilbao dipastikan berasal dari provinsi Basque tempat klub itu bernaung. Soal prestasi pantas dibanggakan. Bilbao 8 kali juara Liga, 23 kali merebut Super Copa dan masing-masing sekali merengkuh Piala Champion, UEFA, Winner Cup dan Interkontinental.

Klub yang bermarkas di San Memes berkapasitas 39.750 penonton ini tidak pernah degradasi ke divisi Segundo B disamping 2 raksasa Barcelona dan Real Madrid. Sampai detik ini Bilbao termasuk penyumbang tetap pemain nasional Spanyol. Di era 90 an siapa yang tidak kenal pemain gelandang menyerang berambut gondrong Julen Guerrero? Atau striker ganas Joseba Etxeberria ? Juga bek kiri Chelsea yang sekarang hengkang ke Valencia, Ansier del Horno? Mereka bertiga sedikit dari pemain jebolan Bilbao yang terkenal.

Determinasi, kebanggaan dan semangat “kedaerahan” yang begitu kental menjadi simbol sukses Bilbao selama ini. Kebanggaan tanpa pemain asing di Bilbao sama kentalnya dengan “kesucian” kostum bergaris pemain Barcelona yang belum sekalipun dipasangi iklan. Padahal puluhan perusahaan raksasa sudi membayar jutaan euro per tahun demi pasang iklan dikaos pemain El Barca.

Simbol sukses Bilbao tidak salah ditiru Persiku. Lebih baik membina pemain lokal di provinsi Jateng untuk memperkuat Persiku dibanding membuang dollar ke negara asing. Lagi pula dana yang dipakai selama ini murni milik rakyat. Toh Persiku sukses ke Divisi Utama Liga Indonesia pertengahan 90’an berkat kontribusi pemain lokal bukan asing. Supaya sukses Persiku perlu semangat baru semacam Bilbao. Pemain asing bukan jaminan mutu!!.

M BASUKI SUGITA: PENULIS TIFOSI SEJATI LASKAR MACAN MURIA, TINGGAL DI DESA KALIPUTU, KUDUS

(2)

MENGGAGAS “PERSIKU SUPER SOCCER KUDUS”

Pepatah Jawa mengatakan “jer basuki mowo bea” bisa diartikan untuk mendulang sukses butuh biaya dan pengorbanan yang tidak sedikit. Padahal selama ini-terus terang- justru masalah finansial menjadi batu sandungan tim jebolan Perserikatan semacam Persiku Kudus. Pendanaan suatu klub sepakbola entah tingkat nasional atau internasional jelas menyerap uang tidak sedikit. Sebagai gambaran klub Persija Jakarta saban tahun diguyur Gubernur Sutiyoso senilai Rp 40 miliar Mungkin kita pusing membayangkan pengeluaran biaya klub seperti Liverpoll.

Sumber dana klub internasional dari penjualan tiket terusan, hak siar televisi, menchardise/pernik-pernik klub seperti kaos, syal, gantungan kunci sampai gelas dan asbak bergambar klub. Sementara banyak klub di Tanah Air menggantungkan hidup dari dana APBD atau sumbangan donatur.

Kelemahan pengelolaan klub di Tanah Air adalah tidak berani melakukan inovasi pendanaan. Buntutnya pentas sepakbola profesional di Tanah Air berjalan lambat. Tidak terkecuali Persiku. Nasib sebuah klub tergantung APBD jelas tidak sehat. Pertimbangan politis penguasa daerah amat kental mewarnai perjalanan klub.

Sementara penjualan klub semodel Persiku bukan jalan bijak. Karena Persiku pada hakekatnya milik masyarakat bukan perorangan atau yayasan seperti Arema Malang. Kebijakan win-win solution perlu dipikirkan demi menyelamatkan nama baik Persiku Macan Muria Kudus. Dibanding klub lain seperti Persijap Jepara, Persibat Batang atau PSIR Rembang nasib Persiku relatif lebih baik.

Sejak 10 tahun silam sudah terdengar nada nyaring Persiku akan diambilalih sebuah perusahaan raksasa yang bergerak dibidang industri rokok kretek. Wacana ini perlu ditindaklanjuti karena menguntungkan banyak pihak. Namun entah kenapa wacana itu lenyap ditiup angina.

Tanpa penjelasan njlimet banyak pihak tahu bahwa yang dimaksud adalah PR (Perusahaan Rokok) Djarum. Ya apa salahnya Djarum mengambilalih kepemilikan Persiku.Djarum juga punya sasaran market penggemar fanatik sepakbola. Seandainya Djarum jadi meng-take over Macan Muria tanggungjawab Pemkab jadi ringan. Tentu sebuah peruhaan swasta sudi beri dana karena mereka butuh brand image positif. Dalam bahasa lain perusahaan tersebut butuh media untuk mengiklankan hasil produk langsung ke tangan konsumen.

Beberapa tahun kedepan iklan rokok akan semakin dibatasi. Setelah dibatasi dimedia cetak dan elektronik iklan rokok nanti tidak boleh bergerak bebas diruang terbuka. Tanpa iklan industri rokok akan kehilangan konsumen. Di Kudus rokok menyerap tenaga kerja ratusan ribu orang.

Industro rokok guncang ekonomi rakyat Kudus kena imbas juga. Jika take over terlaksana Pemkab tidak perlu kehilangan muka kalau saja Persiku berganti baju. Sebagai pemilik utama perusahaan swasta pasti merombak nama tim demi kepentingan bisnis. “Persiku Super Soccer Kudus” menjadi jawaban win-win solution yang menguntungkan semua pihak. Dari kaca mata masyaraka nama baru tanpa menanggalkan sejarah bahwa Persiku tetap milik wong Kudus. Super Soccer dipilih karena sudah jadi brand image dan dan dikenal luas konsumen.

Sementara penggemar fanatik bisa mengusung nama Super Soccer Mania yang terdiri dari beberapa laskar. Nanti masyarakat Kudus harus rela diatur manejemen baru yang pasti beda dengan pemilik lama. Modal tentu berusaha dikembalikan. Penjualan tiket tentu diefektifkan .Jangan semodel manejemen Persiku sekarang longgar mengeluarkan karcis bebas.

Aturan tegas dan jelas perlu didukung demi kebaikan perjalanan Persiku diisendiri. Misalkan sebuah penerbit cukup diberi 2 karcis bebas untuk wartawan berita dan foto. Sekarang ini saat Persiku main kandang dari bos sampai tukang sapu ramai-ramai nonton gratis.

Jika gagasan “Persiku Super Soccer Kudus” terwujud, alokasi dana APBD untuk sepakbola bisa dialihkan. Sedang manajemen baru bisa mengiklankan hasil produknya melalui sarana sepakbola. Perlu diingat sampai detik ini sepakbola tetap olahraga favorit di Tanah Air. Bagaimanapun Persiku perlu perombakan manajemen. Persiku bukan milik segelintir pengurus . Jangan sampai Persiku digerogoti pihak tak bertanggungjawab. Untuk itu tidak salahnya kita ucapkan welcome “Persiku Super Soccer Kudus”.

M BASUKI SUGITA: PENULIS TIFOSI SEJATI LASKAR MACAN MURIA TINGGAL DI DESA KALIPUTU, KUDUS

Komentar bertahan »

olahraga

PERSIKU BUTUH SEMANGAT MAC GYVER

Suara Merdeka , 29 Desember 2007

Anda pernah melihat serial televisi Mac Gyver? Film laga televisi kreasi Lee David Zlotoff tersebut menceriterakan kecerdikan seseorang dalam menghadapi segala tantangan. Aktor Richard Dean Anderson secara apik mampu memerankan figur Mac Gyver yang tak pernah kehilangan akal sehat. Semua tantangan dan rintangan tentu dapat disiasati, demikian semboyan Mac Gyver.

Sedemikian laris fim Mac Gyver di tanah Paman Sam juga di Tanah Air beberapa dekade silam, selama tujuh tahun (1985-1992) dibuat 139 judul. Kehandalan dan kecerdikan Mac Gyver sampai sekarang masih rutin ditayangkan saluran televisi kabel Star Movies. Lantas apa hubungan Persatuan Sepakbola Indonesia Kudus (Persiku) dengan sosok Mac Gyver ?

Mencermati berita diskusi dana Persiku menghadapi kompetisi 2008 yang difasilitasi PWI Pokja Kudus (Suara Merdeka, 30/10), mendadak kepala tambah pusing memikirkan nasib Laskar Macan Muria mendatang. Alih-alih membuat terobosan baru, para peserta diskusi hanya mengulang lagu lama. Bahkan Sekretaris PSSI Pengda Jateng Johar Ling Eng memberi “suara surga” tentang kemungkinan penggunaan dana APBD untuk Persiku.

Intinya peserta diskusi tidak mampu mencari solusi terbaik pendanaan Persiku kompetisi mendatang. Bayang-bayang nasib Persiku bubar ditengah jalan seperti era pertengahan 90’an mendadak buyar setelah membaca berita Suara Merdeka keesokan harinya. Ketua Umum Persiku H Isdarmadi mengatakan kalau perlu urunan untuk beli sepatu sepakbola. Semangat ala Mac Gyver seperti diutarakan mantan ketua paguyuban suporter Persiku inilah yang perlu didalami segenap komponen Macan Muria.

Kenapa tetap harus menanti dana rakyat APBD kalau memang dilarang pemerintah ? Mental dan semangat mencari enaknya sendiri dengan tetap menggantungkan dana APBD perlu dibuang jauh-jauh. Dalam kondisi serba tidak pasti Persiku butuh figur yang punya semangat ngakali bukan keminter. Yaitu sosok figur yang berani mengambil resiko demi menyelamatkan kehormatan nama baik masyarakat Kudus.

Sebenarnya ada sejumlah cara untuk menyelamatkan Persiku. Langkah utama adalah mengurangi berbagai pos-pos pengeluaran. Meski belum pernah secara jelas terungkap kepermukaan, dana pemain asing cukup menyedot dana Persiku. Sebaiknya untuk kompetisi mendatang pemain asing diharamkan memperkuat Persiku. Pertimbangan dana menjadi penyebab utama. Lagi pula pemain asing yang memperkuat Laskar Macan Muria tidak lebih baik dibanding pemain lokal. Maraknya legiun asing berkiprah di kompetisi nasional tidak lebih dari perasaan gengsi petinggi daerah.

Ingat kiprah Wahadi dkk awal tahun 90’an ? Hanya menempati mes di Gang IV yang berfasilitas pas-pasan ternyata mampu mengukir prestasi gemilang. Mes Persiku sekarang di sebuah hotel tentu punya tujuan baik. Namun disaat kantong cekak apa boleh buat langkah pemborosan harus dibuang jauh-jauh.

Kalau dulu main tandang menginap di hotel berbintang sekarang bisa saja cukup mes-mes atau hotel biasa yang bertarif rendah. Pokoknya pos pengeluaran harus ditekan habis tanpa mengurangi mutu permainan Laskar Macan Muria. Sulit memang namun hal itu perlu ditempuh disaat kas keuangan menipis.

Sementara beragam pos pendapatan harus tergali sempurna. Sebagai klub sepakbola pelat merah, jamak ditemui kebocoran disana-sini. Sektor penonton perlu dimaksimalkan. Gagasan menunjuk even organizer sebagai pengelola pertandingan kandang perlu dicoba. Langkah ini minim kebocoran sementara dana yang kantong Persiku tetap terjamin.

Penjualan menchardise perlu disempurnakan karena menjadi salah satu sumber pendapatan. Untuk itu akan lebih baik bila pengurus sekarang ini memperkenalkan secara resmi logo, lambang dan slogan Persiku yang resmi. Setelah disepakati resmi baru dimintakan hak paten. Ini berhubungan dengan persoalan bisnis.

Suporter perlu lebih dilibatkan. Jangan malu-malu meniru tetangga dekat Persijap Jepara. Bonus lewat ider tampah penonton tentu lebih fair dibanding dikucurkan dari kantong pejabat. Karena bonus pejabat bukan murni uang mereka sendiri namun diambilkan dana taktis yang nota bene uang rakyat. Ider tampah sebagai salah satu solusi bonus pemain dan mendekatkan segenap lapisan masyarakat dengan tim kesayangan.

Gagasan dana abadi bisa dihimpun dari perusahaan-perusahaan yang bertebaran di Kudus. Asal dikelola rapi dan profesional bunga dana abadi cukup bisa mendukung pendanaan Persiku disaat sulit. Sebagai imbal balik perusahaan bisa menjadi co sponsor Macan Muria.

Disaat kritis seperti sekarang ini cuku saru kalau segenap pengurus Persiku hanya sibuk berpolemik di media massa. Gunakan segenap akal seperti semangat Mac Gyver dalam menghadapi rintangan dan persoalan. Bravo Persiku !!

PENULIS : M BASUKI SUGITA, TIFOSI PERSIKU TINGGAL DI KALIPUTU, KUDUS

Komentar bertahan »

persiku

TABUNGAN “CEPEK JENG” UNTUK SELAMATKAN PERSIKU

Suara Merdeka, 10 September 2008

Jajaran pengurus Persatuan Sepak Bola Indonesia Kudus (Persiku) bertekad menggali dana mandiri guna mendukung kiprah Laskar Macan Muria, dalam mengarungi kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia musim 2008/2009 ini. Dibawah komando Bupati H Musthofa Wardoyo yang juga Ketua Umum Persiku, dicanangkan program Kudus Menabung Untuk Persiku. Gerakan tabungan ini diharapkan terkumpul dana segar Rp 5 miliar/tahun untuk membiayai Persiku.

Ide brilyan Bupati Musthofa Wardoyo ini jika didukung penuh segenap masyarakat Kota Kretek menjadi salah satu solusi terbaik pendanaan klub pelat merah seperti Persiku. Apalagi terbetik kabar DPRD Kudus tidak akan mengucurkan dana APBD lagi kepada Persiku, seperti musim kompetisi lalu. Berarti Persiku harus bisa menghidupi diri sendiri supaya tetap eksis di kancah kompetisi sepak bola nasional.

Menggali dana masyarakat tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Bagaimana kalau dana terkumpul diselewengkan oknum tidak bertanggung jawab ?

Siapa yang harus “pasang badan” jika terjadi salah urus keuangan ?

Masalah dana Persiku memang harus segera dipecahkan. Baru tiga kali bertanding sudah muncul berita kurang sedap. Demi alasan efisiensi tiga pemain Persiku, Sammy Pieters (penyerang), Abdul Manan (gelandang) dan Bambang Sumantri (gelandang) terpaksa dicoret (Suara Merdeka, 20/8). Tanpa perbaikan fulus, ada kemungkinan pelatih Lukas Tambunan kembali kehilangan pemain.

Namun sayang niat baik gerakan tabungan Persiku kurang didukung strategi perencanaan memadai. Alih-alih mampu mencapai target penerimaan, sosialisasi gerakan tabungan Persiku masih sangat kurang. Tanpa gebrakan semua pihak yang merasa dirinya penggemar setia Persiku, program yang digagas Musthofa Wardoyo ini terus dibayangi kabut kegagalan.

Syarat ikut program Kudus Menabung Untuk Persiku sebenarnya cukup mudah. Peserta program cukup mendaftarkan diri di kantor Persiku Jl Agil Kusumadya 2/ bekas mess Kodim 0722, dengan setoran perbulan Rp 100.000 selama 58 bulan atau 5 tahun kurang 2 bulan. Setiap penabung akan mendapat selembar kertas sebagai bukti keikutsertaan pembayaran.

Untuk menjaring minat penabung disediakan beragam hadiah menarik. Mulai bulan kedua dan seterusnya diadakan undian dengan hadiah 150 persen dari saldo tabungan yang disetor. Setiap tahun diadakan doorprize berhadiah sepeda motor. Di akhir periode akan diadakan undian grandprize berhadiah dua unit sepeda motor dan satu unit rumah. Bagi yang kurang beruntung tidak perlu khawatir, uang tabungan dikembalikan utuh ditambah bunga bank.

Intinya ikut program tabungan Persiku tidak rugi. Selain ikut cawe-cawe meringankan beban Laskar Macan Muria, peserta berkesempatan meraup hadiah menarik serta dijamin uang tabungan dan bunga bank kembali tanpa dipotong sepeserpun

Namun peserta putus di tengah jalan dikenai penalti. Bila jumlah tabungan kurang 50 persen dikenai denda sebesar 50 persen dari saldo simpanan. Sementara total tabungan di atas 50 persen hanya kena denda 40 persen dari saldo simpanan.

Di atas kertas target penerimaan tabungan Persiku sebesar Rp 5 miliar pertahun akan terpenuhi. Data Bappeda dan Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kudus tertinggi dari 35 kabupaten/kota lain. Artinya rata-rata pendapatan warga Kudus terkaya di Jawa Tengah menyisihkan warga perkotaan seperti Semarang dan Solo.

PDRB per kapita atas dasar harga berlaku (tanpa migas) tahun 2005, pendapatan warga Kudus tercatat Rp 26.957.581 pertahun atau sekitar Rp 2,25 juta perbulan jauh di atas rata-rata warga Jateng sebesar Rp 6.145.687 pertahun. Sementara pendapatan warga Semarang hanya sebesar Rp 16.371.499 dan Solo Rp 10.453.952 pertahun. Pendapatan warga Jepara pemilik Persijap jauh lebih rendah lagi hanya Rp 4.680.455 pertahun.

Program tabungan Persiku ditargetkan setahun terkumpul Rp 5 miliar. Berarti supaya target terpenuhi, dalam 1 tahun anggaran harus mampu menarik penabung sebanyak Rp 5 miliar dibagi Rp 1,2 juta (Rp 100.000 x 12 bulan) atau 4.200 orang.

Mengingat warga Kudus tercatat 736.295 jiwa (2005) dan rata-rata pendapatan mereka perbulan mencapai Rp 2,25 juta, tentu menyisihkan uang perbulan sebesar cepek jeng bukan perkara sulit. Hanya saja siapa ke 4.200 orang itu ?

Ada kemungkinan warga masyarakat ikut program tabungan Persiku memang tergugah ingin membantu Laskar Macan Muria atau tergiur hadiah utama rumah. Semua sah-sah saja sepanjang memenuhi persyaratan.

Supaya tidak menimbulkan kesulitan dikemudian hari perlu ditegaskan kepastian hukum program Kudus Menabung Untuk Persiku ini. Misalkan kapan perhitungan awal tabungan Persiku, mengingat jangka waktu tabungan 58 bulan usai saat Bupati Musthofa Wardoyo habis masa jabatan.

Begitu juga hadiah sepeda motor dan rumah harus dipertegas lagi demi kepastian hukum itu sendiri. Jenis dan merk sepeda motor perlu disebutkan sejak awal. Begitu juga lokasi dan tipe rumah sebagai hadiah utama diperjelas panitia pelaksana. Tanpa semua kejelasan, masyarakat akan merasa hanya dijadikan subyek tabungan Persiku saja. Kalau itu sampai terjadi siap-siap saja program mulia ini putus di tengah jalan.

Lebih penting lagi penabung harus tahu akan dikemanakan dana terkumpul. Bisa dipastikan dana tabungan akan diubengke pada beragam sektor perdagangan, seperti saham, asuransi dan properti. Dari perputaran uang nanti akan menghasilkan keuntungan yang bisa digunakan membantu Laskar Macan Muria.

Jangan lupa bicara uang berarti bicara untung atau rugi. Kalau untung tidak jadi masalah. Tapi bagaimana kalau modal perputaran uang Persiku putus di tengah jalan dan menimbulkan kerugian ? Siapa yang harus bertanggung jawab jika sampai (katakanlah) panitia tidak mampu mengembalikan uang tabungan setelah bulan ke 58 ?

Sebagai program baru tentu banyak tantangan. Sepanjang program tabungan disosialisasikan ke masyarakat dengan jujur dan transparan akan sukses. Ayo warga Kudus ramai-ramai menabung untuk Persiku. Hidup Persiku !!

PENULIS M BASUKI SUGITA: GURU MATEMATIKA SMP KELUARGA DI KUDUS

Komentar bertahan »

persiku

HANAFING MUNDUR, TANGGUNG JAWAB PENGURUS PERSIKU

Suara Merdeka, 18 April 2006

Kiprah Persatuan Sepakbola Indonesia Kudus (Persiku) di pentas kompetisi Divisi I Liga Djarum mendapat cobaan berat. Pelatih Hanafing yang sukses membawa Laskar Macan Muria lolos ke Divisi I mengundurkan diri (Suara Merdeka, 4/4). Untuk sementara waktu pengurus menunjuk asisten pelatih Kasiyadi menangani Bambang Harsoyo dkk. Diharapkan dalam waktu dekat pengurus segera menunjuk pelatih definitif. Manejer Persiku yang juga Bupati Kudus Ir HM Tamsil mengaku sudah mengantongi nama pelatih potensial untuk menggantikan kiprah Hanafing.

Sebenarnya seorang pelatih mundur atau dipecat ditengah serunya kompetisi bukan baru lagi. Sebagai komoditas profesional, sepakbola juga menganut paham supply and demand. Prestasi menjadi tolok ukur utama pengurus klub. Disaat pelatih dinilai tidak mampu lagi menangani tim maka surat PHK (pemutusan hubungan kerja) sudah disiapkan. Pelatih sekaliber Giovanni Trapatoni sekalipun terpaksa dipecat klub Sttugart setelah dinilai tidak mampu mengangkat prestasi dipentas Bundesliga. Padahal sosok Trapatoni termasuk pelatih yang disegani di tanah Italia.

Mengikuti perkembangan Hanafing melatih Persiku cukup menarik. Pada pertandingan perdana lawan Perserang Serang yang berakhir imbang 2-2, teriakan supporter untuk memecat mantan pemain Niac Mitra ini sudah terdengar nyaring. Suporter Laskar Macan Muria menilai Hanafing tidak bisa lagi diharapkan membawa bond sepakbola Kudus ini menapak naik ke divisi utama.

Target yang dibebankan pengurus kepada Hanafing untuk meloloskan Persiku ke jajaran elit sepakbola nasional, ditelan mentah-mentah pendukungnya. Sikap supporter ini tidak bisa dinilai keliru. Siapapun yang mengaku pendukung setia Persiku tentu berhasrat tim kesayangannya berprestasi seperti 10 tahun silam. Memori indah Wahadi dkk meladeni tim Pelita Jaya yang diperkuat Roger Milla dkk di stadion Wergu Wetan, tidak bisa dilupakan begitu saja.

Bom kekalahan telak 4 gol tanpa balas dalam partai tandang di Jawa Barat tempo hari, menjadi gong terakhir nasib Hanafing ditanah Kudus. Aksi protes yang menuduh Hanafing menerima suap dari pemain yang dimainkan membuat dia gerah. Hanafing mengaku diperlakukan tidak adil. Pengurus sendiri tidak berusaha meredam amarah Hanafing. Dan keputusan pahit mundur sudah dilakukan Hanafing.

Tuduhan suap yang dilontarkan pendukung Laskar Macan Muria harus diteliti lebih jauh. Tudingan ini perlu disikapi jajaran pengurus secara bijaksana. Sebab didunia sepakbola internasional jarang seorang pelatih mundur gara-gara tudingan suap seperti yang dilontarkan pendukung Persiku itu.

Yang sering mencuat kepermukaan adalah tudingan suap ketika kontrak pemain dilakukan. Atau seorang pemain masuk ke suatu klub dengan memberi imbalan sejumlah uang kepada pelatih. Sosok Wenderley Luxemburgo pernah diperiksa PSSI-nya Brasil karena sering memanggil pemain tidak dikenal masuk tim nasional.Dengan harapan setelah memakai kostum kuning kebanggaan Brasil, pemain bersangkutan punya nilai tawar kontrak tinggi. Sebagai imbalan pemain tim Samba memberi sejumlah uang pelican bagi sang pelatih.

Persoalan yang melingkupi Hanafing perlu diperjelas. Seyogyanya pengurus Persiku memanggil kcoordinator supporter yang pertama melontarkan isu suap, untuk menjernihkan persoalan. Jika tudingan itu betul pantas dipertanyakan keharmonisan antara pengurus dan pemain. Tugas dan fungsi manajer berarti kurang berjalan mulus. Persoalan dikamar ganti pemain ternyata bocor sampai telinga supporter.

Sekecil apapun masalah perlu segera diselesaikan sosok manajer. Ini peliknya susunan pengurus Persiku. Sosok manejer yang juga kebetulan bupati tentu tidak bisa 100 persen mengurusi sepakbola. Betul ada asisten manejer namun jelas fungsinya hanya sebagai pembantu utama saja. Sementara Ketua Umum H Sudarmadi secara birokrasi dibawah manejer Tamsil. Lengkap sudah kelemahan pengurus membenahi persoalan yang muncul.

Jika tudingan suap itu betul, pemain juga punya andil kesalahan. Seharusnya suap (jika benar ada-pen) harus segera dilaporkan ke manajer. Bukan dijadikan konsumsi berita yang buntutnya memalukan banyak pihak.

Jika ternyata tudingan supporter tidak betul, nama baik Hanafing perlu dipulihkan. Kekhawatiran masyarakat luas sepakbola Kudus adalah kemungkinan masuknya unsur-unsur luar untuk mendepak Hanafing dari Persiku. Tanpa bermaksud membela Hanafing, bagaimanapun sosok pelatih yang satu ini ikut berjasa mengangkat prestasi Laskar Macan Muria.

Keberanian pengurus Persiku membebani Laskar Macan Muria masuk Divisi Utama, membuat beban pelatih bertambah berat. Materi pemain inti yang rata-rata sudah uzur membuat Persiku ibarat nyonya tua yang kehilangan gairah bermain. Kaptem tim Bambang Harsoyo sudah 32 tahun, dua striker maut Reinold Pieterzs dan Agus Santiko masing-masing 31 tahun.

Benar ketiganya amat berpengalaman. Namun menggantungkan Persiku ditiga pemain tua amat sulit. Stamina dan fisik ketiga pemain andalan mengarungi kerasnya kompetisi Divisi I amat riskan. Bambang Harsoyo dimatikan atau main kurang semangat, mempengaruhi irama Macan Muria. Skill memang masih oke namun stamina kurang mendukung tentu melemahkan Persiku.

Mumpung kompetisi belum berakhir, akan lebih baik pengurus merevisi target akhir Macan Muria. Target tetap bertahan di Divisi I lebih masuk akal dibanding harus lolos Divisi Utama. Seraya menyiapkan materi muda untuk diasah di pentas Divisi I, Persiku bisa membidik Divisi Utama dengan lebih mantap. Tetap bertahan di Divisi I bukan prestasi memalukan.

Ditengah kepengurusan PSSI yang amburadul, isu tiga tim Persebaya Surabaya, Persis Solo dan Pelita Jaya Purwakarta musim depan satu paket naik ke Divisi Utama bisa jadi kenyataan. Pentas sepakbola butuh finansial sangat banyak. Dan sah-sah saja pengurus tetap mencanangkan target lolos Divisi Utama. Hanya saja jika target gagal diemban jangan melulu menyalahkan pemain. Pengurus harus bertanggungjawab. Bukan dengan cara minta maaf tapi berani mundur dari kepengurusan. Siapa yang (mungkin) akan mundur diakhir kompetisi ? Laskar Macan Muria selalu menyoroti kinerja Persiku.

Penulis: M Basuki Sugita, pecinta Laskar Macan Muria tinggal di Desa Kaliputu, Kudus

Komentar bertahan »

persiku

PERSIKU MENATAP PILKADA 2008

Suara Merdeka, 13 September 2006

Bupati Kudus Ir HM Tamzil MT menandaskan dirinya siap menjadi manajer atau Ketua Umum Persiku musim kompetisi 2007 mendatang, asal klub-klub menyetujui. Berita halaman Laga di Suara Merdeka edisi (2/9) bukan kabar baru. Semua sudah diperkirakan dan itu memang harus terjadi demikian. Sebagai orang nomor 1 di Kudus, Tamzil memang sudah sepantasnya jadi ketua umum bukan sekedar manajer. Dengan situasi seperti sekarang hampir dipastikan Tamzil di musim mendatang akan menjadi figur tunggal dan penting di tubuh Persatuan Sepakbola Indonesia Kudus (Persiku).

Mengapa mantan Wakil Bupati Kabupaten Semarang ini baru sekarang secara resmi bersedia menjadi Ketua Umum Persiku ? Kenapa di musim kompetisi 2006 lalu Tamzil hanya jadi manajer dibawah komando H Isdarmadi yang notabene bawahannya distruktur pemerintahan.

Tanpa Tamzil berdiri paling depan, Persiku yang mencanangkan target lolos ke Divisi Utama babak belur dan tetap terpuruk di Divisi I. Pelatih Riono Asnan bukan malaikat yang mampu menyulap pasukan Macan Muria dalam tempo singkat. Kenyataan pahit yang harus diterima masyarakat Kudus. Disaat prestasi mandek inilah sosok Tamzil baru bersedia mengambilalih kemudi.

Menurut jadwal tahun 2008 mendatang akan diadakan pemilihan kepala daerah (pilkada) di Kudus. Santer terdengar kabar Tamzil akan maju lagi di pilkada mendatang. Sebagai warga negara yang baik Tamzil punya hak penuh mencalonkan diri lagi. Menggunakan sepakbola (baca Persiku) sebagai salah satu unggulan mendekatkan diri kepada rakyat, juga tidak dilarang undang-undang.

Sepakbola digunakan sebagai salah satu kekuatan politik bukan barang baru lagi. Tidak hanya di Indonesia yang kompetisinya masih amburadul. Di negara maju seperti Italia , Spanyol atau Perancis jamak ada politikus menapak karir dari ingar-bingar sepakbola. Toh tidak ada satu ketentuan yang melarang penggiat olahraga masuk arena politik.

Contoh fenomenal bisa dikedepankan sosok Silvio Barlusconi. Lelaki botak pemilik klub terkenal AC Milan ini beberapa tahun lalu nekad terjun ke arena politik. Sadar dirinya terkenal di ranah negara asal Pizza ini, Barlusconi kemudian membentuk partai baru Forza One dan ikut pemilu. Sukses mengelola sepakbola merunut dipentas politik. Perhitungannya tepat dan mampu terpilih sebagai PM Italia.

Dari pentas politik dalam negeri terpilihnya Sukawi Sutarip sebagai Walikota Semarang beberapa waktu lalu tidak lepas dari perannya sebagai Ketua Umum PSIS Semarang. Tentu bukan karena sepakbola semata Sukawi terpilih lagi. Namun sebagai sosok garda depan Panser Biru, Sukawi tentu lebih dikenal kalangan masyarakat setempat dibanding calon lain.

Hanya saja ada perbedaan mendasar “politik sepakbola” di Semarang dan Italia. Barlusconi adalah pemilik resmi AC Milan. Dan dia keluar duit pribadi tidak sedikit untuk membeli saham I Rossoneri. Dengan strategi bisnis ulung AC Milan tercatat sebagai ladang bisnis menggiurkan dan mendatangkan keuntungan finansial tidak sedikit. Bisnis sepakbola tidak beda jauh dengan bisnis bidang lain.

Sementara Sukawi hanya sebagai ketua umum semata sebatas penunjukkan klub-klub anggota PSIS. Profesionalisme ala sepakbola nasional memang serba tanggung. Dan belum ada ceritera sebuah klub sepakbola nasional mampu mendatangkan keuntungan. Secara legal formal klub seperti PSIS adalah milik masyarakat Semarang bukan pribadi Sukawi semata.

Terlepas apakah nanti Tamzil akan maju pilkada 2008 atau tidak namun demi kemajuan sepakbola Kudus, Persiku butuh sosok mampuni. Di pentas sepakbola nasional dan lokal sosok ketua umum harus memenuhi sejumlah syarat. Diantaranya punya apresiasi tinggi terhadap sepakbola daerah dan tidak lupa mampu dan piawai menggalang dana pembinaan. Syarat penggalangan dana inilah yang tidak dipunyai tokoh-tokoh sepakbola Kudus selain Tamzil.

Akses dana punya peran penting untuk memajukan persepakbolaan Kudus. Sebagai orang nomor 1 di Kudus, Tamzil tentu punya akses khusus mendekati perusahaan papan atas setempat. Tentu Tamzil lebih luwes menggalang dana dibanding tokoh sepakbola lain. Klub pelat merah seperti Persiku butuh pengelolaan khusus. Dan figur yang berada paling depan paling tidak punya fulus memadai.

Bisnis rugi klub sepakbola nasional memang butuh dukungan fulus lumayan besar. Sokongan dana APBD tentu masih diperlukan. Bahkan ada kecenderungan umum dana APBD dijadikan sumber utama dan pertama sebuah klub, tidak terkecuali pasukan besutan Riono Asnan ini.

Supaya perimbangan pembangunan daerah tidak terus digerogoti sepakbola, butuh kepedulian anggota DPRD setempat sebelum menggolkan kebutuhan dana Persiku. Perlu kemauan baik semua pihak sampai kapan sepakbola daerah seperti di Kudus ini terus berlindung dibalik dana APBD.

Memang butuh belasan tahun untuk melihat kiprah klub-klub lokal mampu mandiri. Namun kalau tidak dituntut sejak sekarang klub pelat merah terus menetek uang rakyat. Padahal pada situasi ekonomi kurang menggembirakan saat ini perlu siasat khusus untuk menggali dana pihak ketiga. Untuk itu tantangan Tamzil kedepan tentu sangat berat.

Kalau tahun 2007 Persiku mampu berprestasi lebih baik tentu menggembirakan tifosi Macan Muria dan Tamzil secara pribadi. Menjelang “pertarungan menentukan” dua tahun mendatang, Tamzil tentu butuh tambahan catatan prestasi. Dan catatan prestasi itu salah satunya lewat pentas Persiku.

PENULIS: M BASUKI SUGITA, TIFOSI SEJATI PERSIKU TINGGAL DI DESA KALIPUTU, KUDUS

Komentar bertahan »