Arsip untuk persijap

persijap

BAYI TUA ITU BERNAMA PERSIJAP

Suara Merdeka, 29 April 2008

Kesebelasan Persatuan Sepak bola Indonesia Jepara (Persijap) boleh berbangga diri. Klub berjuluk Laskar Kalinyamat ini menjadi satu-satunya wakil Jawa Tengah pada kompetisi elit nasional Superliga mendatang. Paling tidak Jepara patut menepuk dada mampu mengalahkan wakil kota-kota besar seperti Solo, Semarang dan Surabaya Tim dari kota kecil seperti Jepara ternyata punya kesempatan emas merambah kerasnya persaingan kompetisi sepak bola nasional.

Kucuran dana APBD senilai Rp 10 miliar tentu saja menambah semangat tempur Laskar Kalinyamat, setelah beberapa saat terombang-ambing masalah finansial. Namun pengurus sekarang harus pandai putar otak, pasalnya kebutuhan Persijap satu musim kompetisi minimal Rp 17 miliar. Bagaimana nasib Persijap tahun depan ? Apakah masih tergantung uang rakyat ?

Tajuk rencana harian Suara Merdeka (9/4) secara tepat menggambarkan kondisi keuangan kesebelasan pelat merah semodel Persijap. Dikatakan tuntutan profesionalisme seperti diharapkan Badan Liga Indonesia (BLI) haruslah dijawab dengan kemandirian oleh pengelola klub professional, yang dicerminkan dari keberhasilan menggali dana non-APBD.

Pesan tajuk rencana di atas amat jelas. Nasib Persijap selamanya tidak boleh tergantung dana rakyat. Artinya pada suatu ketika Persijap harus bisa mandiri tanpa mengganggu keuangan daerah. Syukur-syukur Persijap mampu memberi sumbangsih bagi kehidupan sosial budaya masyarakat setempat.

Tentu naïf membandingkan pengelolaan klub profesional seperti –misalkan- klub Barcelona dengan Persijap. El Barca sudah malang melintang sejak ratusan tahun lalu dan mampu berekspansi ke penjuru dunia. Namun satu hal perlu dijadikan pelajaran kita bersama, klub seperti Barcelona tentu memulai langkah dari strata terbawah. Intinya Persijap bisa seperti Barcelona kalau dikelola dengan tepat dan benar. Tapi bagaimana caranya ?

Perlu diingat semua perubahan pengelolaan klub sepak bola butuh waktu. Satu hal harus digarisbawahi perubahan pola pikir tidak gampang dan cenderung ditentang pengurus lama. Semua perubahan butuh pengorbanan segenap kompenen pendukung seperti pengurus, pemain dan masyarakat Jepara sendiri.

Kucuran dana Rp 10 miliar patut disyukuri. Namun tentu di sisi lain ada pos anggaran terpaksa dipangkas demi kepentingan Persijap. Entah itu untuk sumbangan pembangunan tempat ibadah, dana perbaikan sekolah atau pos dana pengentasan kemiskinan. Berarti atas nama Persijap, uang rakyat harus dihibahkan untuk kepentingan sepak bola kota ukir.

Unsur ketidakadilan sangat kental disini. Katakanlah untuk kepentingan olah raga, namun kenapa harus sepak bola bukan cabang lain ? Hal ini yang membuat sejumlah kalangan jadi antipati terhadap sepak bola. Ada anggapan pengurus sepak bola daerah terus menggantungkan nasib kepada APBD dengan alasan tertentu. Dengan kata lain banyak pihak tidak berusaha nguripi namun nunut mulyo sepak bola. Kondisi ini kalau dibiarkan terus akan menggeroti keuangan daerah milik bersama rakyat.

Untuk itu supaya ke depan Persijap harus punya rencana kerja jangka pendek, menengah dan jangka panjang utamanya menyangkut masalah finansial. Rencana itu punya tujuan utama kapan waktu tepat bagi Persijap harus mandiri tanpa disuapi lagi uang rakyat. Mekanisme seperti ini akan membuat segenap pengurus Persijap sudah mulai memikirkan keuangan kompetisi musim depan.

Jika rencana kerja keuangan berjalan mulus semangat grobyakan setiap musim berganti tidak terjadi lagi. Bukan tidak mungkin semangat grobyakan memang sengaja dibuat sejumlah pengurus demi kepentingan tertentu. Bagi mereka ikut ngurusi bal-balan berarti pemasukan fulus.

Tentu saja semangat mandiri perlu disesuaikan dengan kondisi daerah setempat. Kiprah professional penuh memang tidak semudah membalikkan tangan. Tapi itu harus dilakukan sejak sekarang supaya tidak muncul rasa iri cabang olah raga lain terhadap sepak bola.

Waktu lima tahun cukup ideal bagi klub Persijap menjadi mandiri tanpa tergantung pihak pemerintah. Misalkan saja tahun pertama (2008 ini) Persijap dibantu Rp 10 miliar. Kemudian berturut-turut bantuan diturunkan bertahap pertahun. Berikutnya tahun 2009 dibantu Rp 8 miliar, 2010 Rp 5 miliar, 2011 mendapat Rp 2 miliar dan bantuan terakhir 2012 sebesar Rp 1 miliar. Sehingga mulai tahun 2013 Persijap dan musim kompetisi berikutnya sudah seratus persen profesional tanpa sepeser pun dibantu uang ABPD.

Keinginan mandiri harus dilakukan segera tahun ini tanpa perlu ditunda-tunda lagi. Sebagai pengganti dana APBD bisa mendapat dukungan keuangan pihak sponsor, pemasukan karcis pertandingan, penjualan menchardise serta jual beli pemain. Salah satu solusi tambahan pemasukan adalah kenaikan harga karcis masuk stadion. Pengorbanan segenap elemen suporter Persijap sangat dibutuhkan pada kondisi sekarang ini.

Tanpa keinginan untuk maju dan mengubah pola pikir, Persijap yang berdiri sejak 1954 akan terus didera masalah keuangan setiap menjelang kompetisi bergulir. Ibarat manusia, tahun 2008 ini Persijap sudah berumur 54 tahun. Usia matang untuk lepas dari ketergantungan orang tua. Tentu di usia 54 tahun seorang anak manusia sudah mampu menghidupi diri sendiri dan keluarga.

Kalau masih terus minta disuapi uang rakyat, Persijap tidak bisa mandiri dan berkembang. Kalau sudah begini Persijap seperti manusia berusia tua tapi pola pikirnya masih kekanak-kanakan. Kata orang bijak, Persijap ibarat bayi tua. Maju terus Laskar Kalinyamat.

PENULIS M BASUKI SUGITA: PENGGEMAR SEPAK BOLA TINGGAL DI KUDUS

Komentar bertahan »

persijap

MENDEWASAKAN SUPORTER SEPAKBOLA

(1) BELAJAR DARI PENGALAMAN PERSIJAP JEPARA

Suara Merdeka, 18 dan 19 Oktober 2007

Nasib apes menimpa anak-anak Persijap Jepara. Tim kebanggaan masyarakat Jepara ini dihukum Komdis PSSI satu partai usiran lawan Arema Malang 18 Oktober mendatang. Hukuman ini sebagai buntut kericuhan saat menjamu PSIM Yogyakarta beberapa waktu lalu. Panpel di stadion Kamal Djunaedi dinilai lalai dan tidak mampu memberi rasa nyaman dan keamanan tim tamu.

Hukuman ini dirasa mengusik rasa keadilan. Tidak heran pengurus Persijap dan segenap komponen suporter yang diwakili Banaspati dan Jetman berencana menggugat PSSI sebagai induk organisasi sepakbola nasional. Dari kacamata Persijap sikap yang diputuskan PSSI kurang adil. Pasalnya banyak kasus serupa bahkan lebih keras justru luput dari gong hukuman PSSI. Sebagai contoh pada putaran pertama lalu ketika dijamu PSIS Semarang bus pemain Persijap dilempari pendukung tuan rumah. Namun panpel PSIS tidak kena sanksi.

Vonis hukuman partai usiran lawan Arema Malang ditengah ketatnya persaingan Wilayah Timur tentu merugikan Persijap. Sampai kompetisi libur berkaitan puasa, Persijap masih mengarungi 8 partai lagi. Dari 26 kali main anak-anak asuhan Yudi Suryata ini mendulang 42 angka. Masih ada waktu relatif panjang untuk mendapat jatah satu tempat di kompetisi Super Liga tahun mendatang. Vonis sudah diputus apa boleh buat Persijap harus tetap rela menjalani.

Kerusuhan suporter sepakbola dikancah pentas nasional akhir-akhir ini kembali marak. Denda uang, hukuman partai usiran sampai skorsing kepada beberapa pihak ternyata sejauh ini tidak mengurangi berbagai kerusuhan. Biasanya kerusuhan sepakbola nasional dipicu tudingan wasit yang dinilai kurang becus. Mengapa kerusuhan sepakbola terus marak ? Apakah hukuman yang divonis Komdis PSSI kurang keras ?

Masih ingat tragedi berdarah sekitar 10 tahun silam di stadion Wergu Wetan, Kudus seusai tuan rumah Persiku dipukul Pelita Jaya 1-2 ? Massa penonton tanpa dikomando mengamuk dan merusak fasilitas stadion. Sejumlah kendaraan bermotor dibakar massa. Bahkan striker Pelita Jaya, Roger Milla harus diamankan petugas keamanan. Pemain Kamerun yang moncer di Piala Dunia Italia 1990 ini ketakutan melihat penonton Kudus bertindak anarkis.

Mengapa suporter sepakbola sering melakukan kerusuhan ? Pengamat sepakbola Dr Sindhunata (Kompas, 2/10/03) dalam tulisannya berjudul Bola, Cermin Kehancuran Bangsa antara lain mengatakan, dunia bola kita yang penuh kekerasan dan kecurangan adalah lokasi nyata dimana rakyat mengalihkan teror negara menjadi teror bagi diri mereka sendiri dan sesamanya. Dan itu semua dilakukan tanpa mereka sadari.
Dalam konteks lebih luas perilaku suporter sepakbola adalah melihat cermin permasalahan sosial sebuah negara. Ketidakadilan, pengangguran dan ketidakberdayaan masyarakat marjinal ditumpahkan saat mereka menonton bal-balan.

Pada kultur sepakbola profesional sebuah klub bisa bertahan hidup jika mendapat sokongan sponsor, suporter, menchardise dan jual-beli pemain. Pemasukan sponsor termasuk tayangan langsung televisi bagi klub-klub terkemuka dunia tidak bisa diabaikan lagi. Sementara sokongan suporter tidak bisa diremehkan begitu saja. Dukungan suporter berbanding lurus dengan prestasi klub. Klub sepakbola modern melihat berapa banyak dukungan suporter dari jumlah karcis terusan yang terjual. Semakin banyak karcis terusan terjual tentu pemasukan klub bertambah banyak.

Dilain pihak suporter dikenal sebagai pemain ke 12 dilapangan. Bahkan sukses Liverpool meraih Piala Liga Champion 2005 disebut-sebut berkat dukungan suporter yang disebut Liverpudian. Saat main di stadion Anfield para pemain Liverpool akan mendapat suntikan moral tinggi dari suporter sehingga sulit kalah dikandang.

Karena begitu penting peran suporter tidak mengherankan Persijap mati-matian melawan keputusan Komdis PSSI. Meski kemungkinan kecil partai usiran lawan Arema Malang dibatalkan Komdis PSSI namun hasil akhir pertandingan bisa merugikan mereka. Persijap yakin selama mereka berkesempatan menjamu Arema di stadion Kamal Djunaedi kemungkinan meraup 3 angka relatif besar. Lain soal kalau mereka harus bertarung lawan Arema dikota lain.

Kata orang bijak tidak ada asap kalau tidak ada sumber api. Mengapa penonton Jepara menjadi beringas kala mereka menjamu PSIM Yogyakarta ? Wasit dan penjaga garis menjadi kambing hitam sungguh tidak masuk akal. Kalau kita hanya menimpakan kesalahan pihak lain tanpa mau berkaca diri sulit untuk maju.

Secara jujur harus diakui masih banyak pemain, pelatih dan oficial tim belum bersikap dewasa. Protes wasit berlebihan bisa memacu penonton bertindak anarkis. Memang sulit disaat tempo pertandingan berjalan ketat dan atmosfir permainan panas sedikit kesalahan wasit bisa memicu kerusuhan.

Untuk itu diharapkan kedewasaan semua pihak untuk tetap berkepala dingin. Pentas sepakbola Eropa memberi banyak pelajaran. Untuk meredam emosi biasanya mereka hanya menempelkan kepalanya dengan kepala lawan seraya berdebat panas. Bagaimanapun sepakbola hanya permainan olahraga belaka. Setiap pertandingan hanya ada tiga kemungkinan yakni menang, kalah atau seri.

Kasus partai usiran diharapkan semakin mendewasakan pengurus dan pendukung setia Persijap. Sebagai tim “pinggiran” tentu banyak lawan merasa iri dengan prestasi Laskar Kalinyamat sejauh ini. Tanpa kedewasaan semua pihak bisa jadi disaat terakhir prestasi Persijap banyak digembosi persoalan non teknis. Jadikan hukuman partai usiran sebagai bekal kedewasaan dimasa mendatang. Maju terus Persijap !!

PENULIS M BASUKI SUGITA, PENIKMAT SEPAKBOLA TINGGAL DI DESA KALIPUTU, KUDUS

MENDEWASAKAN SUPORTER SEPAKBOLA

(2) SEPAKBOLA SEBAGAI SARANA HIBURAN DAN OLAHRAGA

Dalam beberapa tahun terakhir pendukung fanatik sebuah tim sepakbola-akrab disebut suporter- marak bermunculan di Tanah Air. Kemunculan perkumpulan, laskar, persatuan atau paguyuban menjadi semacam simbol keterikatan antara tim/klub dengan pendukungnya. Suporter klub Arema Malang atau disebut Aremania menjadi panutan sejumlah perkumpulan suporter lain. Mendukung habis tim kesayangan tapi tidak lupa tetap beli karcis masuk pertandingan menjadi ciri khusus suporter di era digital ini.

Tidak terkecuali di daerah Muria. Ingar-bingar Persiku Kudus, Persijap Jepara, Persipa Pati, PSIR Rembang dan Persekaba Blora diikuti munculnya beragam kelompok suporter. Dengan beragam nama dan simbol suporter tersebut saling mengklaim diri sebagai pecinta sejati klub kesayangan masyarakat setempat. Bahkan tidak jarang diantara kelompok suporter muncul gesekan yang mengakibatkan perseteruan. Bagaimana memaksimalkan daya dukung suporter menjadi pemain kedua belas dilapangan ?

Lomba kreatifitas mencipta lagu bisa dipakai untuk mengikat simbol dan lambang beragam pendukung klub. Sebagai contoh pendukung Manchester United selalu menyiapkan lagu sambutan menyambut kedatangan sang bintang. Simak saja lagu yang mereka bikin untuk striker haus gol Ruud Van Nistelrooy ketika tiba di Old Trafford beberapa tahun silam. Lagu ini didendangkan seirama lagu Brown Girl in the Ring-nya Boney M.

Ruud van Nistelrooy, la.. la.. la..la,
Ruud van Nistelrooy..la..la..la..la..la,
Ruud van Nistelrooy, la..la..la..la..la,
He’s Dutch, and scores a lot of goals
!

Kenapa harus lagu bukan tarian atau tetabuhan yang diperlombakan ? Mengubah syair lagu terkenal mudah, murah dan bisa dilakukan siapa saja asal mau kreatif sedikit. Dari ajang kreatifitas seperti inilah pengelola klub berusaha mendewasakan pendukung klub. Bagaimanapun faktor dukungan penonton amat mutlak diperlukan. Selain sebagai pemain ke 12 dilapangan, daya beli penonton memberi pemasukan tidak sedikit bagi klub. Tidak mengherankan sikap kritis suporter membuat pemain bahkan pelatih sekaliber Claudio Raneiri bisa dipecat.

Harus disadari sikap penonton yang kurang dewasa bisa merugikan kepentingan tim secara keseluruhan. Timnas Denmark harus rela kalah 0-3 dari Swedia dalam kualifikasi Piala Eropa 2008 dan denda Rp 100.000 franc swiss (sekitar Rp 720 juta) hanya gara-gara ulah seorang penonton mabuk memukul wasit Herbert Fandel.

Kekerasan dan aksi rasisme sudah sepatutnya dibuang jauh-jauh. Sepakbola hanya sekedar olahraga belaka. Pertandingan sepakbola berjalan menarik tanpa disertai insiden secuil pun tentu memberi kenikmatan tersendiri. Namun sebaliknya jika pertarungan diwarnai berbagai insiden bisa merugikan banyak pihak. Pada gilirannya nanti orang akan malas datang ke stadion.

Budaya nonton sepakbola sekeluarga belum mentradisi di Tanah Air. Sekilas mayoritas penonton di Wergu Wetan, Kamal Junaedi atau Krida adalah lelaki. Kaum hawa, kakek, nenek atau balita seperti jamak dilihat pada tayangan langsung sepakbola Inggris jarang hadir nonton sepakbola nasional. Kenapa demikian ? Karena di negara-negara maju, nonton sepakbola bukan sekedar sport (olahraga) belaka namun juga entarteinment (hiburan).

Bagi sebagian pihak nonton sepakbola nasional seperti horor. Sungguh menakutkan karena bisa saja terjadi kerusuhan yang berujung perusakan fasilitas umum. Nonton sepakbola nasional dibutuhkan nyali tersendiri. Hadirnya penonton wanita, balita atau orangtua ke stadion bisa menjadi ukuran ketertarikan keluarga nonton sepakbola. Bisa kita bandingkan dengan pertandingan basket. Sebagian penonton adalah wanita dan anak-anak. Karena mereka yakin selama datang, nonton basket dan pulang tidak akan ditemui gangguan keamanan.

Memang mayoritas penduduk Tanah Air dikenal gila sepakbola. Namun apa artinya kalau mereka enggan datang ke stadion. Kedatangan penonton ke stadion akan memberi sumber pemasukan klub. Bagaimanapun semua pihak punya kewajiban mengamankan kelancaran pertandingan.

Saling keterikatan dan kerja sama saling menguntungkan antara suporter dan klub perlu dijunjung tinggi. Sudah sepantasnya penonton di Muria mulai berubah dan bertindak dewasa. Kalah-menang dalam sepakbola itu biasa. Biasakan memberi tepuk tangan bagi kedua tim yang berlaga. Berikan sambutan meriah bagi tim yang memang pantas menang. Dalam sejarah sepakbola dunia syair lagu terbukti ampuh menyatukan seluruh pendukung klub. Bisa saja suporter Kudus, Jepara, Pati, Rembang atau Blora mencipta lagu seterkenal You’ll Never Walk Alone-nya Liverpool.

PENULIS M BASUKI SUGITA: PENIKMAT SEPAKBOLA TINGGAL DI DESA KALIPUTU, KUDUS

Komentar bertahan »

persijap

KEBERHASILAN PERSIJAP, KEBERHASILAN “WONG NJEPORO”

Suara Merdeka, 14 Januari 2008

Persijap Go Super Liga. Demikian bunyi spanduk besar yang diusung pendukung Persijap dari kelompok Jetman menyambut kemenangan tipis 1-0 Laskar Kalinyamat atas tamunya Persiwa Wamena di stadion Kamal Djunaidi. Bukan tanpa maksud harian Suara Merdeka mengusung foto besar Jetman di halaman depan edisi Minggu (23/12). Disaat prestasi tim-tim sepakbola Jateng dan DIY memble dipentas nasional, Persijap menyeruak tanpa diduga berhasil lolos ke Superliga musim kompetisi mendatang. Kepastian anak-anak Jepara maju kekompetisi elit sepakbola nasional musim mendatang cukup dramatis. Kekalahan Persijap 1-2 ditangan tuan rumah Persiter Ternate ternyata membawa berkah. Karena disaat sama pesaing berat Persibom Bolaang Mongondow kalah 0-2 dari tuan rumah Persipura Jayapura. Poin 51 sudah cukup bagi Persijap melaju ke Superliga musim mendatang.

Boleh dikatakan keberhasilan Persijap menjadi semacam obat penawar atas jebloknya tim-tim Jateng. Klub PSIS tim kebanggaan warga Semarang yang semula digadang-gadang bakal mampu berprestasi ternyata setali tiga uang dengan Persis Solo, gagal lolos ke kompetisi elit nasional. Keberhasilan Persijap masuk Superliga bukan prestasi pemain atau pelatih Yudi Suryata belaka. Lebih dari itu keberhasilan Persijap merupakan keberhasilan wong Njeporo secara keseluruhan. Apa kunci sukses Persijap ?

Persatuan Sepakbola Indonesia Jepara (Persijap) resmi didirikan tahun 1954 dan berhome base di stadion Kamal Djunaidi berkapasitas 10.000 penonton. Diantara klub-klub elit sepakbola nasional, sosok Persijap menjadi salah satu perkecualian. Seragam yang dikenakan pemain Persijap bukan semata-mata menjadi pembeda dengan tim lawan selama berlaga 90 menit dilapangan hijau. Muncul rasa bangga dan terhormat pada dada setiap pemain setiap kali mengenakan seragam kebesaran merah-merah.

Dukungan publik Njeporo tidak hanya muncul di Kamal Djunaidi. Dimana Persijap bertanding disana pula muncul dukungan bagi para pemain. Keterikatan batin antara pendukung dan pemain menjadi simbol energi tanpa batas. Tidak heran pendukung Persijap tidak murni penduduk asli Jepara. Setiap kali Persijap main diluar pulau, warga pendatang asal Kudus, Demak, Pati, Blora dan tentu saja wong Njeporo tanpa dikomando ikut mendukung Persijap.

Ikatan batin antara suporter dan pemain tidak muncul begitu saja. Perjalanan panjang sejarah Persijap membuktikan bahwa selama permainan ngotot pantang menyerah ditampilkan dilapangan hijau selama itu pula penonton berubah menjadi pemain keduabelas.Persijap tempo doeloe dan sekarang sama saja. Yakni pemain akan memberikan yang terbaik selama dipercaya pelatih turun membela nama baik Persijap.

Ibaratnya meski kaki patah asal masih mampu menendang bola, pemain Persijap tetap rela main bal-balan. Jujur saja fasilitas pemain Persijap masih kalah jauh dibanding saudara tua PSIS Semarang atau bahkan Persis Solo dan Persiku Kudus. Belum lagi bicara pasokan dana APBD yang sejauh ini masih jadi andalan klub pelat merah seperti Pesijap.

Harus diakui kejelian Yudi Suryata meracik Persijap patut diacungi jempol. Pria kelahiran Sragen 25 November 1954 ini mampu meramu pemain yang disodorkan pihak manajemen menjadi kekuatan mumpuni. Misalkan saja Doni Siregar. Selama memperkuat Persiku, Doni tidak lebih dari pemain yang lain. Namun ditangan Yudi Suryata, Doni mampu disulap menjadi gelandang tahan banting dan bertenaga kuda seperti peran Essien di klub Chelsea.

Selain itu jam terbang Yudi Suryata dikancah sepakbola nasional memberi kredit tersendiri bagi kemajuan Persijap. Mantan pelatih Persipura Jayapura ini tahu persis karakter permainan Persijap dan sifat “asli” suporter Laskar Kalinyamat. Yudi tidak butuh pemain berskill tinggi namun lembek dilapangan hijau. Pria bercabang lebat ini lebih suka pemain berteknik pas-pasan namun mau kerja keras secara tim. Tidak heran Persijap ditangan Yudi tidak punya pemain bintang. Pemain bintang dari kaca mata Yudi adalah starting eleven yang diberi kesempatan pertama main dilapangan. Legiun asing seperti Evaldo Silva de Assis terpilih skuad Persijap karena ia bukan pemain cengeng.

Sepak terjang Persijap bukan tanpa halangan. Cidera pilar belakang Phaytoon Tiabma ditengah kompetisi membuat pertahanan Persijap berlubang. Untung saja Yudi dengan sigap mampu menambal kelemahan Laskar Kalinyamat yang ditinggal pemain asal Thailand ini. Tentu saja keberhasilan Persijap tidak membuat silau. Justru pentas Superliga menjadi tantangan berat Persijap.

Perbaikan sarana dan prasarana harus dilakukan manajemen. Yang pasti jangan sampai Persijap hanya mampir ngombe belaka. Kamal Djunaidi perlu kucuran dana kalau ingin mementaskan pertandingan Superliga. Persyaratan yang dicanangkan PSSI bukan untuk dihindari namun lebih memacu tim-tim yang bertarung.

Masalah dana menjadi persoalan krusial dimasa depan. Kucuran APBD tidak bisa selamanya jadi andalan. Perlu pemikiran ulang dan menyeluruh supaya prestasi Persijap lolos ke Superliga tidak sia-sia belaka. Semangat wiraswasta masyarakat Jepara patut dikedepankan. Penggalian dana masyarakat harus diutamakan. Sepanjang pos keuangan transparan tifosi Persijap akan antusias membantu Laskar Kalinyamat.

Awal tahun 90’an Persijap pernah menggagas penggalian dana abadi masyarakat. Ide cemerlang itu patut didukung. Meski sayang sejauh ini tidak pernah terdengar kabar bagaimana nasib dana abadi tersebut. Persijap tidak perlu malu belajar dari pengalaman Arema Malang. Klub kebanggaan warga Malang ini tetap mampu mengarungi kerasnya kompetisi tanpa sokongan pemerintah.

Pada akhirnya semua terpulang kepada masyarakat Jepara sendiri. Antusiasme wong Njeporo terhadap Persijap tidak perlu diragukan lagi. Semua syarat sudah terpenuhi. Tinggal bagaimana mengolah modal tak terbatas menjadi tambahan modal bagi Laskar Kalinyamat. Persijap tengah menapak dipentas sepakbola nasional. Sungguh sayang kalau jerih payah itu hanya sekedar mampir ngombe belaka di musim mendatang. Maju terus Persijap!!

PENULIS : M BASUKI SUGITA, PENIKMAT SEPAKBOLA TINGGAL DI KUDUS

Komentar bertahan »