BAYI TUA ITU BERNAMA PERSIJAP
Suara Merdeka, 29 April 2008
Kesebelasan Persatuan Sepak bola Indonesia Jepara (Persijap) boleh berbangga diri. Klub berjuluk Laskar Kalinyamat ini menjadi satu-satunya wakil Jawa Tengah pada kompetisi elit nasional Superliga mendatang. Paling tidak Jepara patut menepuk dada mampu mengalahkan wakil kota-kota besar seperti Solo, Semarang dan Surabaya Tim dari kota kecil seperti Jepara ternyata punya kesempatan emas merambah kerasnya persaingan kompetisi sepak bola nasional.
Kucuran dana APBD senilai Rp 10 miliar tentu saja menambah semangat tempur Laskar Kalinyamat, setelah beberapa saat terombang-ambing masalah finansial. Namun pengurus sekarang harus pandai putar otak, pasalnya kebutuhan Persijap satu musim kompetisi minimal Rp 17 miliar. Bagaimana nasib Persijap tahun depan ? Apakah masih tergantung uang rakyat ?
Tajuk rencana harian Suara Merdeka (9/4) secara tepat menggambarkan kondisi keuangan kesebelasan pelat merah semodel Persijap. Dikatakan tuntutan profesionalisme seperti diharapkan Badan Liga Indonesia (BLI) haruslah dijawab dengan kemandirian oleh pengelola klub professional, yang dicerminkan dari keberhasilan menggali dana non-APBD.
Pesan tajuk rencana di atas amat jelas. Nasib Persijap selamanya tidak boleh tergantung dana rakyat. Artinya pada suatu ketika Persijap harus bisa mandiri tanpa mengganggu keuangan daerah. Syukur-syukur Persijap mampu memberi sumbangsih bagi kehidupan sosial budaya masyarakat setempat.
Tentu naïf membandingkan pengelolaan klub profesional seperti –misalkan- klub Barcelona dengan Persijap. El Barca sudah malang melintang sejak ratusan tahun lalu dan mampu berekspansi ke penjuru dunia. Namun satu hal perlu dijadikan pelajaran kita bersama, klub seperti Barcelona tentu memulai langkah dari strata terbawah. Intinya Persijap bisa seperti Barcelona kalau dikelola dengan tepat dan benar. Tapi bagaimana caranya ?
Perlu diingat semua perubahan pengelolaan klub sepak bola butuh waktu. Satu hal harus digarisbawahi perubahan pola pikir tidak gampang dan cenderung ditentang pengurus lama. Semua perubahan butuh pengorbanan segenap kompenen pendukung seperti pengurus, pemain dan masyarakat Jepara sendiri.
Kucuran dana Rp 10 miliar patut disyukuri. Namun tentu di sisi lain ada pos anggaran terpaksa dipangkas demi kepentingan Persijap. Entah itu untuk sumbangan pembangunan tempat ibadah, dana perbaikan sekolah atau pos dana pengentasan kemiskinan. Berarti atas nama Persijap, uang rakyat harus dihibahkan untuk kepentingan sepak bola kota ukir.
Unsur ketidakadilan sangat kental disini. Katakanlah untuk kepentingan olah raga, namun kenapa harus sepak bola bukan cabang lain ? Hal ini yang membuat sejumlah kalangan jadi antipati terhadap sepak bola. Ada anggapan pengurus sepak bola daerah terus menggantungkan nasib kepada APBD dengan alasan tertentu. Dengan kata lain banyak pihak tidak berusaha nguripi namun nunut mulyo sepak bola. Kondisi ini kalau dibiarkan terus akan menggeroti keuangan daerah milik bersama rakyat.
Untuk itu supaya ke depan Persijap harus punya rencana kerja jangka pendek, menengah dan jangka panjang utamanya menyangkut masalah finansial. Rencana itu punya tujuan utama kapan waktu tepat bagi Persijap harus mandiri tanpa disuapi lagi uang rakyat. Mekanisme seperti ini akan membuat segenap pengurus Persijap sudah mulai memikirkan keuangan kompetisi musim depan.
Jika rencana kerja keuangan berjalan mulus semangat grobyakan setiap musim berganti tidak terjadi lagi. Bukan tidak mungkin semangat grobyakan memang sengaja dibuat sejumlah pengurus demi kepentingan tertentu. Bagi mereka ikut ngurusi bal-balan berarti pemasukan fulus.
Tentu saja semangat mandiri perlu disesuaikan dengan kondisi daerah setempat. Kiprah professional penuh memang tidak semudah membalikkan tangan. Tapi itu harus dilakukan sejak sekarang supaya tidak muncul rasa iri cabang olah raga lain terhadap sepak bola.
Waktu lima tahun cukup ideal bagi klub Persijap menjadi mandiri tanpa tergantung pihak pemerintah. Misalkan saja tahun pertama (2008 ini) Persijap dibantu Rp 10 miliar. Kemudian berturut-turut bantuan diturunkan bertahap pertahun. Berikutnya tahun 2009 dibantu Rp 8 miliar, 2010 Rp 5 miliar, 2011 mendapat Rp 2 miliar dan bantuan terakhir 2012 sebesar Rp 1 miliar. Sehingga mulai tahun 2013 Persijap dan musim kompetisi berikutnya sudah seratus persen profesional tanpa sepeser pun dibantu uang ABPD.
Keinginan mandiri harus dilakukan segera tahun ini tanpa perlu ditunda-tunda lagi. Sebagai pengganti dana APBD bisa mendapat dukungan keuangan pihak sponsor, pemasukan karcis pertandingan, penjualan menchardise serta jual beli pemain. Salah satu solusi tambahan pemasukan adalah kenaikan harga karcis masuk stadion. Pengorbanan segenap elemen suporter Persijap sangat dibutuhkan pada kondisi sekarang ini.
Tanpa keinginan untuk maju dan mengubah pola pikir, Persijap yang berdiri sejak 1954 akan terus didera masalah keuangan setiap menjelang kompetisi bergulir. Ibarat manusia, tahun 2008 ini Persijap sudah berumur 54 tahun. Usia matang untuk lepas dari ketergantungan orang tua. Tentu di usia 54 tahun seorang anak manusia sudah mampu menghidupi diri sendiri dan keluarga.
Kalau masih terus minta disuapi uang rakyat, Persijap tidak bisa mandiri dan berkembang. Kalau sudah begini Persijap seperti manusia berusia tua tapi pola pikirnya masih kekanak-kanakan. Kata orang bijak, Persijap ibarat bayi tua. Maju terus Laskar Kalinyamat.
PENULIS M BASUKI SUGITA: PENGGEMAR SEPAK BOLA TINGGAL DI KUDUS