Arsip untuk olahraga

olahraga

DJARUM YANG MEMULAI, PEMERINTAH YANG MENGAKHIRI

Suara Merdeka, 27 Juni 2006

Perusahaan Rokok (PR) Djarum Kudus akhir Mei lalu meresmikan pembangunan gedung bulutangkis mewah dan representatif. Dana sekitar Rp 30 miliar dikucurkan dari kantong pribadi Djarum. Ini jelas bukan proyek kecil-kecilan. Sarana GOR Jati sebagai pengganti GOR Kaliputu milik PBDjarum ini tidak kalah lengkap dibanding pelatnas Cipayung milik PB PBSI. Ditengah keterpurukan prestasi bulutangkis nasional dipentas dunia, menarik mencermati ada apa dibalik ini semua. Apakah PB Djarum ingin mengambilalih kinerja PB PBSI yang dituding banyak pihak menjadi salah satu faktor keterpurukan bulutangkis nasional ?

Pembangunan GOR Jati hanya salah satu faktor pengembangan prestasi bulutangkis. Sarana lengkap ditambah pelatih jempolan tidak akan berarti banyak jika proses pmbibitan berjalan lamban. Suka atau tidak suka faktor bibit atlit kecil bulutangkis sekarang ini mandek. Keterpurukan bulutangkis nasional saling tali-temali dan dibutuhkan kearifan dan kerjasama semua pihak untuk mengangkat kembali pamor badminton.

Secara garis besar generasi muda di negeri ini kebanyakan penggemar olahraga sepakbola. Seperti dinegara-negara lain sepakbola tercatat yang paling banyak penggemarnya. Setelah sepakbola ada beberapa cabang olahraga yang menarik minat kawula muda, diantaranya bulutangkis, bola voli dan basket.

Melihat indikator pemberitaan media cetak dan elektronik, boleh dikatakan basket sedikit lebih unggul. Sejumlah peran di sinetron remaja dilayar kaca teve swasta memakai kasting basket bukan sepakbola apalagi bulutangkis. Bagi anak muda sebagai pebasket lebih membanggakan dibanding pebulutangkis. Meskipun sehari-hari anak tersebut bisa saja penggemar berat sepakbola. Iklan-iklan teve pun yang menampilkan corak anak muda juga menyajikan basket sebagai keseharian.

Selama ini proses perekrutan PB Djarum dan klub-klub bulutangkis yang lain di Tanah Air dilakukan dengan dua cara. Yakni memantau disejumlah even pertandingan diluar kota dan proses pembinaan atlit cilik usia dini. Setelah ditemukan atlit berprestasi, anak tersebut diundang ikut seleksi penerimaan di PB Djarum. Kalau memenuhi standar prestasi yang sudah dibakukan anak tersebut diberi kesempatan masuk ke PB Djarum.

Sementara pembinaan atlit cilik khususnya dilingkup Kudus yang sudah dilakukan PB Djarum boleh dikatakan sejauh ini gagal total !!. Paling tidak kalau mengacu prestasi pebulutangkis 10 tahun terakhir. Atlit cilik asli Kudus yang terakhir moncer di pentas internasional lewat proses panjang PB Djarum adalah tunggal putra Haryanto Arbi dan Budi Santosa di era 90’an. Padahal di era 80’an PB Djarum banyak menelurkan atlit berbakat asli Kudus antara lain Liem Swie King, kakak beradik Hastomo Arbi dan Edi Hartono.

Tentu saja pencarian bakat unggul bukan semata tugas Djarum saja. Pemerintah dalam hal ini Pemkab Kudus juga punya tugas mencari bibit-bibit unggul untuk dibina PB Djarum yang sudah bersusah-payah membangun sarana mahal. Bibit unggul harus dicari dan ditemukan. Atlit cilik usia dini tidak akan turun dari langit. Atlit berprestasi harus dibina sungguh-sungguh kalau ingin mencetak prestasi internasional.

Kerjasama PB Djarum dan Pemkab Kudus mutlak diperlukan. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan pemkab untuk mendukung keberadaan GOR Jati. Dukungan tidak hanya diberikan kepada atlit cilik asli Kudus namun dalam arti luas mendukung proses pembinaan atlit PB Djarum.

Dukungan pertama yang harus dilakukan adalah menggairahkan minat generasi muda untuk menggeluti bulutangkis. Antara lain memperbanyak even-even pertandingan bulutangkis mulai tingkat SD, SMP dan SMA. Meski terlambat rencana even seperti turnamen Kretek Cup I akhir Juni ini di Kudus patut disambut gembira. Pada turnamen Se Eks Karesidenan Pati ini digelar kejuaraan bulutangkis tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Umum sampai Veteran. Diharapkan turnamen seperti Kretek Cup bisa rutin dilaksanakan saban tahun.

Pemkab Kudus bisa menjadi pioner pengembangan bulutangkis di daerah-daerah dengan menjadikan badminton sebagai olahraga wajib disekolah. Pihak Djarum bisa membantu menyediakan sarana dan prasarana seperti kok-kok bekas dan gratis untuk dibagikan ke sekolah-sekolah.

Langkah berikut yang perlu diambil adalah membantu pendidikan para atlit. Perlu diketahui latihan bulutangkis dan pendidikan formal harus berjalan seiring. Langkah Djarum yang tetap mewajibkan atlit binaannya sekolah perlu diacungi jempol. Pasalnya atlit di klub-klub lain tidak perlu sekolah formal lagi. Padahal seorang atlit belum tentu akan berhasil mencetak prestasi maksimal dikemudian hari. Gangguan cedera dan kurang berkembang prestasi bisa ditutupi dengan melanjutkan sekolah.

Bagi atlit binaan PB Djarum tawaran beasiswa dari Pemkab Kudus akan meringankan beban orang tua alit. Selama ini atlit PB Djarum disokong biaya hidupnya namun tetap keluar uang sekolah sendiri. Sehingga atlit selama menjalani latihan di Kudus tidak perlu pusing memikirkan biaya pendidikan. Memang pemerintah telah menggulirkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Namun sejujurnya dana itu masih kurang, misalkan untuk membeli buku-buku pelajaran dan kebutuhan sekolah lain.

Mekanisme pembiayaan sekolah gratis akan menguntungkan kedua belah pihak baik Djarum maupun Pemkab Kudus. Sekolah gratis bisa menjadi magnet atlit lain diluar kota untuk tertarik masuk PB Djarum. Karena mereka telah dijamin pendidikan selama berlatih bulutangkis di Kudus. Bagi Pemkab sendiri akan mendulang nama baik karena ikut memikirkan kebutuhan atlit yang berlatih di Kudus. Lagi pula pada even-even tertentu seperti Porda mereka bisa membela nama Kudus.

Selain beasiswa pemkab bisa mengatur tempat belajar atlit selama berlatih di Kudus. Selama ini nasib pendidikan atlit PB Djarum cukup mengenaskan. Mereka ditolak masuk disejumlah sekolah karena terpaksa masuk sekitar pukul 10.00 seusai latihan pagi. Demi menjamin kelangsungan pendidikan Pemkab dan Kantor P Dan K setempat bisa mengatur sekolah mana yang ditunjuk untuk mendidik atlit selama belajar tingkat SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi. Untuk semua ini sarana dan prasarana di Kudus mencukupi.

Dilain pihak PR Djarum sebagai pemilik tunggal GOR Jati perlu lebih membuka diri. Bangunan megah itu saat ini bukan milik Djarum semata tapi sudah jadi kebanggaan masyarakat Kudus. Tanpa kepedulian pemerintah dan masyarakat, bangunan megah GOR Jati tidak ada artinya bagi prestasi bulutangkis nasional.

PENULIS : M BASUKI SUGITA, MANTAN PENDIDIK ATLIT PB DJARUM KUDUS TINGGAL DI DESA KALIPUTU, KUDUS

Komentar (3) »

olahraga

PERSIKU BUTUH FIGUR PETER UEBERROTH

Suara Merdeka, 26 Maret 2008

Dalam sejarah pesta olahraga empat tahunan antarbangsa, Olimpiade Los Angeles 1984 tercatat mencatat keuntungan finansial fantastis mencapai 232,5 juta dollar AS. Padahal olimpiade sebelumnya hanya memberi kerugian dan tinggalan utang negara penyelenggara. Olimpiade Montreal 1976 misalnya Kanada merugi sampai 1 miliar dollar AS. Keuntungan besar olimpiade musim panas ke 23 di Los Angeles tidak bisa dipisahkan dari manajemen bisnis Ketua Panitia Olimpiade Peter Victor Ueberroth.

Di tangan Ueberroth olimpiade bukan sekedar pesta olahraga empat tahunan namun ternyata dapat “dijual” dan memberi keuntungan. Konsep bisnis lelaki kelahiran 2 September 1937 di Evanston Illinois ini kemudia ditiru negara-negara lain. Tidak heran banyak negara sekarang ini saling berebut menjadi kota penyelenggara olimpiade. Karena prestasinya Ueberroth mendapat gelar Man of Year 1984 dari majalah Time.

Di era abad ke 21 ini olahraga bukan sekedar sport belaka namun juga entertainment. Konsep bisnis NBA (National Basketball Association) dan ajang sepakbola di benua Eropa sebagai contoh nyata bagaimana cara menjual olahraga untuk mendapat keuntungan menggiurkan. Pertarungan puncak American football Super Bowl XLII di Phoenix City antara New York Giants lawan New England Patriots awal Februari ini merupakan contoh gres gabungan bisnis olahraga dan hiburan.

Kehandalan manajemen Ueberroth sebenarnya juga ditemui di tanah air. Sebut saja Helmi Yahya (pakar kuis televisi) , Rhenald Kasali (pakar manajemen) dan Syafii Antonio (pakar perbankan Syariah) adalah segelintir figur yang mampu “merubah batu menjadi roti”.

Sebagai daerah bisnis tulen andal di Jawa Tengah, sejumlah figur di Kudus sebenarnya punya potensi menjadi Ueberroth-ueberroth yang mampu menyelamatkan Persatuan Indonesia Kudus (Persiku). Intinya sejumlah figur kalau diberi kesempatan luas mampu mencarikan dana Persiku tanpa harus mengandalkan uang rakyat.

Solichin Salam dalam buku Nuansa Kampung Halaman (1993) menulis sejarah masa lampau menunjukkan masyarakat Kudus punya jiwa dagang. Industri rokok kretek andalan Kudus sekarang ini tidak lepas dari sentuhan tangan dingin Nitisemito. Jauh sebelum republik ini merdeka produk andalan Bal Tiga telah menguasai pangsa pasar rokok kretek dalam negeri.

Keinginan Persiku lepas pelan-pelan dari APBD patut diacungi jempol. Persiku di bawah komando Pelaksana Harian Wiyono yang telah membuka kantor sekretariat di ruko Ronggolawe merupakan langkah pertama untuk hidup mandiri.

Kantor sekretariat nantinya menjadi semacam etalase simbol kemandirian Persiku utamanya dari segi pendanaan. Ruang kantor sekretariat tersebut bukan hibah atau pinjaman pihak kedua tapi murni bisnis sewa dari pengelola. Manajemen juga akan mengangkat pegawai khusus untuk menangani sekretariat. Pola pikir yang dikembangkan manejeman Persiku sekarang ini merupakan langkah maju dibanding era sebelumnya. Terbaca keinginan kuat untuk lepas mandiri dan bersikap profesional.

Keinginan Persiku lebih profesional dan mandiri patut didukung segenap elemen tifosi Laskar Macan Muria dan masyarakat. Dibutuhkan kejelian menangkap peluang bisnis supaya Persiku mampu mandiri. Langkah tersebut memang tidak mudah namun harus segera dilaksanakan.

Kemandirian Persiku tidak jatuh dari langit namun butuh strategi terencana dan terprogram. Satu langkah pertama dan utama yang dilakukan Peter Ueberroth adalah menarik sukarelawan. Dimana sukarelawan itu bekerja membantu panitia olimpiade tanpa imbalan secuil kecuali sekedar biaya makan dan minum. Langkah kedua adalah menjual olimpiade itu sendiri. Prinsip ekonomi pengeluaran ditekan seminimal dengan penghasilan semaksimal mungkin menjadi pegangan utama Ueberroth.

Supaya tidak keluar uang banyak pemakaian pemain asing-yang tidak jelas kualitasnya-sebaiknya ditinjau ulang. Lebik baik mengandalkan potensi pemain lokal saja. Seperti klub Atletic Bilbao di liga Spanyol yang sampai sekarang hanya memakai pemain dari Provinsi Catalunya. Meski hanya mengandalkan potensi lokal Bilbao tercatat salah satu dari tiga klub selain Barcelona dan Real Madrid yang belum pernah degradasi ke Segunda B.

Untuk mampu mandiri Persiku bisa belajar dari tayangan langsung pertandingan kelas dunia. Konsep hiburan sekarang ini mendapat prioritas utama pada setiap pertandingan. Misalkan waktu jeda istirahat bisa diadakan pertandingan penalti atau kompetisi lain yang dilakukan siswa Taman Kanak-kanak (TK) atau Sekolah Dasar (SD).

Mengapa harus siswa TK dan SD ? Ada dua keuntungan. Pertama menjaring calon suporter baru. Kedua orang tua mereka akan ikut nonton dan Persiku mendapat tambahan pemasukan karcis pertandingan.

Prinsipnya banyak celah menggali potensi baru di Kudus demi kemajuan dan kebaikan Persiku itu sendiri. Peter Ueberroth orangnya yang menghadirkan pentas musik ke cabang olahraga. Upacara penutupan Olimpiade Los Angeles akan selalu dikenang berkat suara emas Lionel Richie yang melantunkan lagu All Night Long. Mari kita dukung kemandirian Persiku.

PENULIS M BASUKI SUGITA: GURU MATEMATIKA SMP KELUARGA DI KUDUS

PELAJARAN DARI BLORA:

MEMBANGKITKAN MINAT OLAHRAGA CATUR

Suara Merdeka, 27 Mei 2008

Hebat dan salut. Pujian pantas diberikan kepada komunitas olahraga pada umumnya dan lebih khusus lagi pecinta catur di Kabupaten Blora. Disaat kiprah olahraga daerah didominasi hiruk-pikuk sepak bola yang sering berkutat masalah dana dibanding prestasi. Segenap komunitas olahraga Blora berani berpikir beda. Mereka mulai mengembangkan dan memasalkan olahraga catur.

Tidak tanggung-tanggung kalangan olahraga Blora mengundang Grand Master (GM) Utut Adianto. Keberadaan Utut disamping bertarung simultan lawan 30 pecatur setempat (Suara Merdeka, 23/5), juga menyemarakan peresmian sekolah catur yang dikelola Yayasan Insan Gemilang. Yayasan yang dikelola Ketua PB Percasi periode 1978-1983 HR Djokomoelyo Mangunprawiro ini diharapkan mampu mencetak pecatur handal.

Apa yang dilakukan komunitas olahraga Blora itu cukup menarik perhatian. Terlepas dari itu ada semacam keberanian untuk mencetak pecatur tangguh hasil produk lokal. Keberanian melawan arus ini kadang sulit ditemukan di daerah lain.

Seperti halnya cabang olahraga lain, pertandingan catur lebih sering disisihkan penentu kebijakan daerah. Suka atau tidak suka, cabang sepak bola tetap jadi primadona. Meski hasil masih jauh panggang dari api, kucuran dana khusus sepak bola tetap diusahakan mati-matian. Lantas bagaimana membangkitkan semangat minat olahraga catur lokal ?

Banyak pihak beranggapan permainan catur hanya sebagai pengisi waktu luang belaka. Dari pada bengong lebih baik main skak. Pandangan ini tidak sepenuhnya keliru. Di banyak tempat mudah ditemukan orang bermain catur di pinggir jalan. Bahkan permainan catur tiga langkah mati dengan hadiah rokok, gampang ditemui disetiap keramaian. Peringatan Kemerdekaan RI terasa kurang afdol tanpa menyertakan lomba catur antarwarga.

Di kota Kudus seperti pojok Proliman dan ujung selatan jalan Kiai Telingsing mudah ditemukan kerumunan orang bermain catur. Bahkan ada pengayuh becak lebih suka main catur dibanding mengantarkan pelanggan. Dapat diperoleh gambaran permainan catur termasuk olahraga rakyat. Permainan catur berprestasi di Tanah Air kurang berkembang lebih disebabkan pemerintah kurang memberi perhatian lebih kepada cabang olahraga yang satu ini.

Padahal di negara-negara sono, selama dekade perang dingin olahraga catur menjadi semacam simbol kebebasan berpendapat dan berpikir. Pecatur jenius nan sksentrik Bobby Fischer berani menyuarakan kebebasan berpikirnya lewat permainan catur. Penggemar catur sejati masih ingat bagaimana Fischer dengan segala kebebasan yang dimiliki mampu mengalahkan Boris Spassky di Rekyavik, Islandia 1972. Berkat jasa Fischer pula, FIDE-organisasi catur dunia-merombak sistem kejuaraan dunia dan meningkatkan hadiah pertandingan.

Olahraga catur juga menjadi alat perjuangan melawan rejim komunis Uni Soviet. Dalam kasus ini patut dikedepankan pecatur tangguh Victor Korchnoi dan Garry Kasparov. Perjuangan mereka melawan simbol kemapanan negara yang diwakili sosok Anatoly Karpov, membuat pertandingan catur selalu menarik perhatian dunia. Intinya di negara-negara maju olahraga catur mendapat tempat terhormat.

Pertandingan catur punya sisi unik dan menarik yang tidak dipunyai cabang olahraga lain. Selain biaya murah meriah, catur bisa dipertandingan dimana saja dan kapan saja. Permainan catur bisa dilakukan tidak pada satu tempat. Beda negara bahkan benua sekalipun, dua orang bisa bermain catur bersamaan.

Ada lagi permainan catur buta atau blinfold chess yaitu permainan catur tanpa melihat buah catur atau papan catur. Grand Master sekelas Utut Adianto punya kemampuan visualisasi yang luar biasa sehingga mampu membayangkan pergerakan posisi buah catur dengan tepat walau tanpa melihat papan catur. Pecatur kelas dunia yang mahir bermain catur buta Alexander Morozevich, Viswanathan Anand, dan Vladimir Kramnik.

Guna memasalkan permainan catur kita tidak boleh melupakan sekolah dan Kantor Dinas Pendidikan. Jenjang sekolah adalah sarana tepat guna menjaring bibit unggul pecatur. Langkah pertama yang bisa dilakukan adalah kerjasama dengan Kantor Dinas Pendidikan untuk mengundang guru-guru olahraga. Mereka patut dikedepankan untuk membimbing dan membina siswa sekolah.

Para guru olahraga perlu dikenalkan notasi catur. Bukan rahasia lagi pelajaran olahraga di sekolah hampir mustahil mempelajari tentang catur. Mengapa notasi catur dikemukakan ? Karena permainan catur lebih mudah berkembang jika anak mengenal betul notasi catur. Lewat notasi yang dimiliki akan mudah ditemukan kelemahan dan kekuatan lawan bertanding.

Keunikan olahraga catur dan kemajuan teknologi bisa dijadikan andalan pemasalan olahraga catur. Ingat permainan catur bisa dilakukan saling berjauhan dan tidak harus tatap muka langsung. Hanya mencatat notasi perlangkah dua orang pecatur bisa bertarung lewat mediasi surat-menyurat, sarana telepon, chatting internet bahkan sms (short message service).

Keunikan permainan catur lewat sarana sms patut digalakkan mengingat saat ini para remaja tengah booming handphone. Disamping mengasah kemampuan otak pertandingan catur sms juga melatih kejujuran. Cukup menulis notasi di layar handphone, langkah-langkah catur bisa dikirim ke lawan bertanding yang berada di tempat lain. Tinggal penerima sms melangkah bidak sesuai pesan terkirim dan gantian kirim langkah balasan kepada lawannya.

Pemasalan olahraga catur bisa juga melalui sarana dan prasarana komputer sekolah. Setiap pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) para siswa bisa bermain catur lewat program komputer. Diharapkan para siswa mampu menambah wawasan permainan catur. Mulai langkah pembukaan, permainan tengah sampai penyelesaian akhir.

Pertarungan catur antara manusia melawan komputer sudah bukan barang baru lagi. Kasparov beberapa kali bermain lawan komputer mutakhir jenis Deep Blue dan X3D Fritz. Blora telah memberi jalan terang olahraga catur, tinggal bagaimana masyarakat dan pemerintah menyikapinya. Pembaca ingin belajar catur juga ? Skak mat….

PENULIS M BASUKI SUGITA: PENGGEMAR GM GARRY KASPAROV TINGGAL DI DESA KALIPUTU, KUDUS

MENUNGGU KELAHIRAN ARJUNA DAN SRIKANDI KUDUS

Suara Merdeka, 23 Juli 2008

Halaman Laga lembaran Suara Muria edisi (11/6) menulis kiprah SMP Negeri 4 Kudus yang coba mengembangkan olahraga panahan. Tercatat ada 14 siswa setempat dibimbing guru Hadi Sunaryo menekuni panahan. Pembinaan ini diproyeksikan mengikuti ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jateng tingkat SMP, Juli nanti. Meski demikian langkah sekolah yang berlokasi di Singocandi ini tidak berjalan mulus. Maklum harga perlengkapan panahan cukup mahal. Apalagi langkah maju sekolah tersebut belum dilirik pemkab setempat.

Apa yang dilakukan SMP N 4 Kudus patut mendapat apresiasi tinggi. Pengembangan olahraga panahan sesuai semangat Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang dikembangkan pemerintah. Dimana setiap satuan pendidikan (sekolah) diberi keleluasaan mengembangkan potensi yang dimilikinya. Pengembangan panahan sebagai olahraga pilihan tergolong berani. Maklum panahan termasuk cabang olahraga minoritas sepi publikasi.

Padahal prestasi Arjuna dan Srikandi Indonesia di kancah internasional termasuk memuaskan. Rintisan perolehan medali di ajang bergengsi olimpiade justru dilakukan panahan bukan bulu tangkis apalagi sepak bola. Pada Olimpiade Montreal (Kanada) tahun 1978 sudah menghentakkan dunia lewat pemanah putri Leane Suniar yang mampu duduk di peringkat sembilan dunia.

Baru di Olimpiade Seoul 1988 bendera Merah-Putih kali pertama berkibar, lewat panahan beregu putri yang mendulang medali perak. Prestasi Srikandi kita kembali terukir pada kejuaraan dunia di Jakarta 1995 dengan merengkuh medali perunggu. Prestasi tertinggi Arjuna kita diraih pemanah Hendra Setiawan yang menduduki peringkat keenam dunia di Olimpiade Barcelona 1992.

Supaya program pembinaan panahan di Kudus pada umumnya dan SMP N 4 khususnya terencana baik, perlu dilakukan perlu dilakukan beberapa langkah terorganisir. Tanpa susunan kerja terprogram dikhawatirkan pembinaan panahan jalan ditempat atau bahkan layu sebelum berkmbang.

Langkah pertama adalah menentukan jenis perlombaan panahan. Perlu diketahui perkembangan olahraga panahan di Tanah Air dikenal jenis panahan tradisional dan panahan ronde FITA (Federation Internationale de Tir A L’arc/Organisasi Federasi Panahan Internasional). Panahan tradisional dilakukan dengan ciri menembak gaya duduk. Sementara jenis ronde FITA yang merupakan jenis ronde internasional menggunakan alat-alat luar negeri dengan gaya menembak berdiri.

Karena alat-alat panahan mahal harganya maka sejak 1963 dikenalkan jenis baru dinamakan ronde Perpani (Persatuan Panahan Indonesia). Jenis ini sama seperti ronde FITA hanya saja peralatan yang dipakai dan jarak tembak disesuaikan dengan kemampuan peralatan yang dibuat di dalam negeri.

Setelah jenis latihan panahan ditentukan perlu diadakan kerja sama dengan pihak luar daerah. Jalinan kerja sama tidak perlu jauh-jauh cukup ngangsu kawruh ke Blora saja. Di Blora cabang olahraga panahan sudah mendarah daging. Sejumlah sekolah bahkan membuka ekstra kurikuler khusus cabang panahan. Terbukti pada 2007 lalu Blora dipercaya menjadi penyelenggara kejuaraan nasional panahan Perpani. Hasilnya tidak mengecewakan, pelajar Blora mampu merebut medali emas.

Pada waktu-waktu tertentu mantan pemanah nasional Donald Pandiangan yang dikenal sebagai Robin Hood Indonesia, turun tangan langsung memoles atlet-atlet panahan Blora. Polesan panahan sekelas Pandiangan tentu sangat berguna mencetak atlet lokal handal. Jalinan kerja sama bisa berjalan lencar lancar apabila Kantor Dinas Pendidikan, KONI dan Pemkab Kudus ikut cawe-cawe.

Mengingat proses pembinaan panahan butuh waktu relatif lama, prestasi puncak mungkin baru dipetik sekitar lima tahun ke depan. Itupun dengan syarat pembinaan dilakukan terprogram dan terencana baik. Langkah pemasalan panahan di kalangan pelajar setingkat SMP dan SMA merupakan langkah bijak. Dari pemasalan nanti diharapkan muncul bibit lokal unggul. Prinsipnya pelajar dikenalkan dulu olahraga panahan.

Karena peralatan panahan khususnya ronde FITA tergolong mahal, perlu dicarikan orang tua asuh. Tugas orang tua asuh adalah menyokong dana secara rutin untuk pengembangan panahan di Kudus.

PENULIS M BASUKI SUGITA: GURU MATEMATIKA SMP KELUARGA DI KUDUS

.

PIALA THOMAS DAN UBER:

MEWARISI SEMANGAT AGUS SUSANTO

Wasit kehormatan Richard Scheele berjalan hilir mudik. Lelaki jangkung berambut putih asal Inggris itu tampak kesal melihat tingkah laku penonton Senayan. Sejumlah sandal penonton melayang ke tengah pertandingan mengganggu babak final Piala Thomas antara tuan rumah Indonesia lawan Malaysia.

Untuk sementara regu putra Indonesia ketinggalan 3-4. Nasib tim putra tergantung pasangan Agus Susanto/Mulyadi melawan ganda kuat Negeri Jiran Ng Boon Bee/Yew Khan. Kedudukan tuan rumah sangat kritis karena pasangan Agus Susanto/Mulyadi ketinggalan jauh 15-2, 13-2. Dua angka lagi direbut lawan, pupus sudah harapan tuan rumah Indonesia mempertahankan gelar Thomas Cup.

Berkat dukungan belasan ribu penonton, pasangan Agus Susanto/Mulyadi mampu merebut angka demi angka untuk mengejar ketinggalan. Keributan tidak dapat dihindari setelah pasangan tuan rumah berhasil membalikkan keadaan, merebut set kedua dengan skor tipis 18-16. Artinya peluang tuan rumah mempertahankan gelar Piala Thomas kembali terbuka lebar.

Sejarah mencatat Piala Thomas 1967 kala itu merupakan lembaran kelam bulu tangkis nasional. Gara-gara ulah penonton yang kelewat batas mendukung Agus Susanto/Mulyadi, wasit Scheele menghentikan pertandingan final. Babak final diusulkan pindah namun ditolak kubu tuan rumah. Malaysia kemudian dinyatakan menang 6-3 dan berhak menyandang gelar negara kuat beregu putra bulu tangkis dunia. Peristiwa tragis itu disebut sebagai tragedi Scheele.

Untuk kesekian kali perebutan lambang supremasi bulu tangkis dunia Piala Thomas dan Uber 2008 kembali digelar di Istora Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta pada 11-18 Mei besok. Tim Thomas berada di Grup D bersama Jerman dan Muangthai. Sementara regu Uber berebut tempat di Grup Z bersama Jepang dan Belanda.

Sederet pahlawan pernah mengharumkan nama bangsa dan negara dalam pagelaran bulu tangkis dunia. Sebut saja Rudi Hartono, Liem Swie King, Imelda Wiguna dan Tuti Sumirah. Dari sekian banyak cabang olahraga memang hanya bulu tangkis yang bisa dibanggakan negeri ini di kancah internasional.

Bicara Piala Thomas dan Uber, ingatan masyarakat pecinta bulu tangkis nasional mau tidak mau akan melayang ke Jawa Tengah, khususnya kota Kudus dengan PB Djarum-nya. Bahkan ketika merebut Piala Thomas 1984 di Kuala Lumpur, Malaysia dari delapan pemain tercatat tujuh diantaranya berasal dari klub Djarum. Thomas Cup saat itu melambungkan nama Hastomo Arbi yang diluar dugaan mampu menumbangkan pemain terkuat Cina Han Jian dengan skor ketat 14-17, 15-6 dan 15-8.

Sosok pebulu tangkis Agus Susanto patut dikedepankan ketika bicara perebutan Piala Thomas dan Uber. Bukan sekedar sebagai pelaku sejarah tragedi Scheele belaka. Namun lelaki kelahiran Tegal ini punya jiwa semangat pantang menyerah yang melambungkan dirinya. Kakak ipar Liem Swie King ini menapak dari bawah sebelum ditarik PBSI ke Jakarta ikut pemusatan latihan persiapan Piala Thomas 1967.

Ayah kandung pebulu tangkis nasional Hermawan Susanto ini semasa jadi bintang tidak didukung fasilitas canggih dan sokongan finansial kuat perusahaan kelas kakap. Berkat keuletan dan kegigihan sebagai pemain yang membawa dirinya dipercaya memperkuat tim Merah-Putih.

Loyalitas, keuletan, kegigihan dan semangat bertarung tinggi menjadi modal berharga Agus Susanto. Persoalan ini perlu diapungkan ke permukaan karena masalah dukungan finansial dan fasilitas tidak berbanding lurus dengan torehan prestasi pemain. Kondisi dewasa ini beda jauh dengan situasi akhir 60’an. Sementara sejumlah fasilitas canggih sudah tersedia, prestasi emas tidak kunjung didapat.

Tentu ada kendala yang mengakibatkan prestasi bulu tangkis nasional menukik dari tahun ke tahun. Bibit unggul khususnya sektor putri semakin jauh dari masa emas Ivana Lie dan Susi Susanti.

Kejuaraan bulu tangkis daerah Muria Cup III di Kudus awal bulan Mei ini membuktikan hal tersebut. Pertandingan tunggal kelas pelajar putri terpaksa dibatalkan panitia karena jumlah pemain yang berminat sangat sedikit. Padahal Kudus pernah menyumbangkan pemain mumpuni di regu Uber atas nama kakak beradik Megah Linawati dan Mega Idawati.

Sektor putra pun kalau tidak segara dibenahi akan bernasib sama. Kakak beradik Hastomo Arbi, Eddi Hartono dan Haryanto Arbi yang dikenal dengan sebutan Trio Karangnongko agaknya butuh belasan tahun lagi muncul di Kudus. Bukan tidak mungkin keberadaan GOR Jati dan Kaliputu akan jadi singgahan pemain luar kota yang tidak mampu dimanfaatkan potensi Kudus.

Potensi lokal Kudus dan sekitarnya perlu digali lebih dalam lagi. Kejuaraan Muria Cup yang rutin digelar PB Djarum baru merupakan langkah awal. Bibit muda potensial tidak mampu terasah tanpa peran serta masyarakat dan lebih khusus lagi pemerintah kabupaten setempat.

Elit politik lokal yang lebih nyaring bicara sepak bola dibanding bulu tangkis, sebenarnya masuk akal juga. Mengingat sepak bola punya penggemar jauh lebih banyak yang berpotensi mendulang perolehan suara pada setiap perhelatan politik. Setali tiga uang sikap anggota dewan yang sering berkutat bicara bal-balan.

Sebenarnya pemerintah daerah bisa berbuat banyak mendukung potensi bulu tangkis setempat. Satu hal yang bisa dilakukan adalah mendukung proses pendidikan bibit unggul tepok bulu. Catat dan data bibit unggul bulu tangkis lokal. Beri kemudahan mereka mendapatkan pendidikan memadai. Bantuan bea siswa akan meringankan beban orang tua. Sehingga orang tua akan lebih memotivasi dan tidak melarang anak-anaknya beraktivitas bulu tangkis.

Khusus untuk atlit yang digodok PB Djarum, pemerintah bisa menyediakan sarana dan prasarana gratis guru guna menunjang proses pembelajaran mereka. Jamak para atlit latihan pagi dan sore sehingga mulai belajar sekolah jam 10.00. Tentu saja pola pendidikan atlit terganggu dan menghambat masa depan mereka. Ketersedian pendidik yang disediakan pemerintah bisa dimanfaatkan para atlit di luar masa latihan keras mereka.

Bagaimanapun mencetak atlit bulu tangkis handal butuh waktu lama. Tinggal bagaimana political will mewujudkan keinginan membangkitkan gairah bulu tangkis Kudus dan sekitarnya. Tanpa kemauan kuat penentu kebijakan boleh jadi kepahlawanan bulu tangkis Kudus tidak ada penerusnya.

PENULIS M BASUKI SUGITA: GURU MATEMATIKA SMP KELUARGA DI KUDUS

MENGGAGAS GEDUNG BULUTANGKIS LIEM SWIE KING

Suara Merdeka, 8 Februari 2008

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005) pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya membela kebenaran atau pejuang yang gagah berani. Sosok pahlawan selalu diibaratkan pejuang yang selalu berada dibarisan depan medan pertempuran. Darah pengorbanan pahlawan tidak akan mati sia-sia. Mereka akan terus dikenang dan menjadi spirit generasi berikutnya.

Karena itulah setiap negara tentu punya makam pahlawan dan hari pahlawan. Sebagai bentuk penghormatan sudah jamak nama jalan, gedung, jembatan atau lapangan nama terbang suatu negara diberi nama sosok pahlawan.

Pada era sekarang sosok kepahlawanan tidak hanya diukur dari keberanian mereka dimedan pertempuran. Tapi mereka yang berjasa mengharumkan nama bangsa juga berhak menyandang predikat pahlawan tanpa harus melalui laga peperangan bersimbah darah.

Di luar negeri ketentuan itu sudah berlaku cukup lama. Misalkan John Lenon pentolan band The Beatles diabadikan sebagai bandara Liverpool. Karena pelantun lagu Imagine ini dinilai mengharumkan bangsa Inggris lewat lirik lagu ciptaannya. Begitu juga mantan Presiden Paman Sam John F Kennedy atas jasa-jasanya diabadikan menjadi nama lapangan terbang New York.

Negara-negara maju percaya prestasi olahraga mampu mengangkat harkat dan martabat sebuah bangsa. Stadion sepakbola di benua Eropa terutama di Spanyol dan Italia jamak mengambil nama legenda klub. Sebut saja stadion Santiago Bernebau kandang klub Real Madrid. Turnamen grand slam Australia Terbuka digelar di Rod Laver Arena. Mengambil nama petenis legendaris Negara Kanguru

Di tanah air pengabdian sosok atlit berprestasi masih jauh panggang dari api. Padahal banyak atlit layak diabadikan menjadi nama gedung olahraga atau bahkan nama jalan. Kalau begitu kenapa masyarakat Jawa Tengah umumnya dan warga Kudus khususnya tidak mempeloporinya ?

Siapa tidak kenal Liem Swie King. Sosok mantan pebulutangkis yang punya senjata mematikan jumping smash ini cukup tepat diabadikan menjadi nama gedung bulutangkis di Kudus. Membuka lembaran sejarah PB Djarum yang mengawali kiprah di brak tembakau Bitingan Lama (sekarang Jl Lukmonohadi) no 35 tentu tidak bisa dipisahkan dari sosok lelaki kelahiran Kudus 28 Februari 1956 ini. PB Djarum, Liem Swie King dan Kudus adalah tiga nama berbeda tetapi tetap menyatu dan sejiwa.

Liem Swie King adalah atlit PB Djarum pertama yang berhasil meraih gelar bergengsi All England. King main final pertama 1976 pada usia 20 tahun tapi takluk di tangan Rudi Hartono. Tercatat ia meraih 3 kali meraih juara tunggal putra All England 1978, 1979, 1981 serta berjasa besar 3 kali juga merebut Thomas Cup 1976, 1979 dan 1984.

Sukses 1984 itu sungguh bermakna karena tujuh dari delapan anggota Tim Thomas waktu itu berasal dari PB Djarum. Keberhasilan King bukan prestasi kacangan. Karena jasa King lah PT Djarum tidak segan-segan merogoh kocek lebih dalam membiayai bulutangkis. Berkat King juga nama Djarum dan Kudus mendunia.

Sekarang ini Kota Kretek punya tiga gedung bulutangkis mumpuni. GOR Wergu Wetan milik Pemkab serta GOR Kaliputu dan GOR Jati milik PT Djarum. Menilik nama ketiga GOR tersebut mengambil nama desa tempat lokasi bangunan berada. GOR Jati di atas lahan seluas 43.207 m2 yang menelan biaya mencapai Rp 35 miliar disebut-sebut gedung bulutangkis paling representatif di Asia Tenggara.

Gedung bulutangkis dinamai mantan atlit bukan bertujuan mengkultuskan figur tertentu. Namun sebagai tetenger akan kehebatan, keberhasilan dan prestasi seorang atlit pada jamannya. Selain itu sebagai pemacu semangat atlit cilik sekarang ini untuk menyamai atau bahkan melebihi prestasi kakaknya. Tentu ada prasyarat tertentu sebelum sebuah nama diabadikan menjadi nama gedung olahraga. Misalkan mampu keluar sebagai juara dunia.

Ada sejumlah alasan kenapa sosok Liem Swie King layak dan pantas diabadikan menjadi nama gedung bulutangkis di Kudus. Pertama, King adalah pebulutangkis asli Kudus. Ia lahir dan besar di Kudus serta hasil didikan asli klub Kota Kretek. Kedua, berkat ketangguhan si jumping smash ini nama PB Djarum dan Kudus dikenal mendunia.

Ketiga, King berperan besar mendorong atlit cilik potensial Kota Kretek berprestasi dunia. Setelah King mencuat bibit unggul asli Kudus mulai tumbuh ibarat jamur di musim hujan. Sebut saja Trio Karanongko kakak-beradik Hastomo Arbi, Eddy Hartono dan Haryanto Arbi. Ibarat gerbong Liem Swie King lah lokomotif yang menarik prestasi PB Djarum dan Kudus. Alasan keempat adalah sebagai pemersatu integritas bangsa. Ternyata sosok bernama “asing” ini tanpa pamrih berhasil mengharumkan nama bangsa dan Negara.

Bisa saja para anggota Dewan mengusulkan kepada Pemkab Kudus untuk mengab adikan Liem Swie King menjadi pengganti nama GOR Wergu Wetan. Sungguh bermakna jika PT Djarum sudi mengganti nama GOR Jati yang mentereng itu atau GOR Kaliputu yang punya sejarah keemasan menjadi GOR Liem Swie King.

Tentu saja diharapkan kedepan dari Kudus kembali muncul bibit potensial bulutangkis kelas dunia. Liem Swie King sebagai salah anggota magnificent seven selain Rudi Hartono, Tjuntjun, Johan Wahyudi, Iie Sumirat, Christian Hadinata dan Ade Chandra berhasil membuktikan kepada dunia bahwa wong Kudus bisa dan mampu berprestasi dunia. Kata orang bijak, bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu menghormati pahlawannya…………

PENULIS : M BASUKI SUGITA, GURU MATEMATIKA SMP KELUARGA DI KUDUS

Komentar bertahan »