PENDIDIKAN BEBAS de BRITTO HADAPI TANTANGAN JAMAN
Hari Selasa Wage 19 Agustus 2008 ini, tepat ulang tahun ke 60 SMA Kolese de Britto Yogyakarta. Bagi sebagian besar penduduk umur 60 tahun sudah pensiun dan kurang produktif. Ia tinggal menikmati masa tua dan menimang cucu. Untuk dunia pendidikan umur enam dasa warsa tergolong pendek.
Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimiliki, SMA de Britto akrab disebut JB-singkatan dari Johanes de Britto- masih diminati lulusan SMP, tentu karena alasan tertentu. Di tengah persaingan ketat, sekolah khusus putra beralamat di jalan Solo 161 ini masih jadi magnet calon siswa dari Sabang sampai Merauke.
Para romo Jesuit dan suster Carolus Borromeus yang membidani JB , mungkin tidak mengira sekolah yang mereka dirikan tetap eksis di usia 60 tahun. Pendidikan bebas ala JB , masih menu utama menjaring calon siswa. Pendidikan bebas yang dikenalkan awal tahun 70’an, memberi peluang seorang siswa JB menemukan jati dirinya sebagai anak manusia berkepribadian utuh.
Hanya saja di tengah perubahan sosial, politik dan budaya yang berjalan begitu cepat, pendidikan bebas JB dapat tantangan berat. Bagaimana sebaiknya pendidikan bebas JB bisa terus langgeng dan memberi sedikit kecerahan di tengah kabut kualitas pendidikan nasional ?
Di luar urusan pelajaran, sejak dulu siswa JB dikenal urakan, bersandal jepit, berpakaian dekil, sering kali sekolah sengaja tidak mandi dan berambut gondrong sebahu. Di sekolah lain bawa rokok jadi urusan serius, di JB bukan barang haram. Satu batang rokok kretek join bersama sekelas hal lumrah di sela-sela istirahat.
Sebagai sekolah swasta JB tanggap kemampuan ekonomi orang tua murid. Biar irit pakaian siswa boleh bebas dan bersandal. Perjuangan anak-anak JB dulu luar biasa. Bahkan artis Kris Biantoro rela naik pit onthel puluhan kilo meter dari Magelang, demi belajar di JB Tampilan luar boleh dicibir karena semau gue, bicara kualitas pendidikan tetap diacungi jempol.
Jiwa pemberontak menentang arus sosial sudah dikenal sejak dulu. Era Ode Baru masyarakat takut mengibarkan bendera partai selain kuning. Setelah insiden lapangan Banteng, keesokan harinya bendera merah berkepala banteng berkibar gagah di halaman sekolah.
Jaman sudah berubah. Siswa JB sekarang tampak lebih “feminim” dan “wangi”. Justru aneh siswa JB sekarang ke sekolah pakai sandal jepit celana pendek. Setiap Senin siswa JB dan SMA lain sama saja pakai seragam putih abu-abu. Dulu satu-satunya wanita di lingkungan JB hanya mbok bon yang digelari wanita “tercantik” di dunia, sekarang lebih “segar”, berkat kehadiran ibu guru.
Semua tidak ada yang salah. Siswa JB harus berubah sesuai tuntutan jaman. Pengelola JB juga bersikap realistis dan kompromi dengan pangsa pasar dan situasi sosial budaya lingkungan masyarakat. Namun sejumlah ikon tetap dilestarikan. Ruang kelas tanpa jendela dan pintu serta plafon kepang bambu, menunjukkan kekhasan JB. Sedikit contoh “kenakalan” jaman dulu tetap ingin dipertahankan pengelola.
Hanya sekadar pakaian bebas ke sekolah, tentu keberadaan JB akan tergerus arus jaman. JB harus tetap dipertahankan sebagai sekolah yang punya ciri khas pendidikan bebas dan senantiasa berada di garda depan arus perubahan sosial dan budaya. Jiwa sosial dan semangat kebersamaan diperlukan sebagai acuan merenda masa depan anak didik.
Keuskupan Agung Semarang secara tegas menandaskan dewasa ini ada empat tantangan bangsa, yakni masalah korupsi, kerusakan lingkungan hidup, aksi kekerasan serta kerusakan peradaban publik. Pendidikan bebas JB secara nyata harus disiapkan ikut cawe-cawe menjawab keempat tantangan bangsa di atas yang membuat kondisi Tanah Air morat-marit. Tanpa berusaha melawan persoalan bangsa , JB kehilangan sumber nafas kehidupan roh pendidikan bebas.
Sekolah menjadi tempat strategis melawan tantangan bangsa, karena disinilah tempat berkumpulnya calon pemimpin bangsa. Sekolah di Tanah Air saat ini selalu berkutat memberi bekal pengetahuan sesuai tuntutan kurikulum pemerintah. Kesibukan rutin sekolah setiap tahun menyiapkan Ujian Nasional atau UN akan mengikis jiwa anak didik. Mereka tidak peduli situasi di luar tembok sekolah. Hal ini harus dikritisi pendidikan bebas JB.
Selain tanggap tuntutan pendidikan nasional, siswa JB harus mampu menjawab realita sosial kemasyarakatan. Energi melimpah setiap anak didik perlu diberi wadah dan disiapkan sedini mungkin menghadapi tantangan bangsa. Kejelian dan keberanian menghadapi tantangan sosial, budaya dan politik terkini membuat pendidikan bebas JB senantiasa terpelihara.
Perbuatan kecil tapi nyata seperti melarang naik sepeda motor di lingkungan sekolah, sudah menjawab tantangan bangsa. Praktek membumi lebih bermakna dibanding membuat spanduk besar berisi imbauan pelestarian lingkungan hidup. Pendidikan bebas JB tentu harus berani melawan praktek korupsi, yang saat ini jadi musuh besar bangsa dan negara..
Hakekatnya pendidikan bebas JB harus selalu dekat dengan kehidupan wong cilik. Alumni JB harus mampu berperan sebagai agen perubahan sosial. Mereka punya tanggung jawab moral menerjemahkan pendidikan bebas ke tengah masyarakat. Memang bukan pekerjaan mudah namun bisa dilakukan. Bantingan ala JB sangat bermanfaat namun sulit diterapkan di masyarakat umum.
Kepedulian sosial tinggi lewat pendidikan bebas membuat sekolah di JB terasa beda. SARA boleh jadi masalah pelik bangsa namun di JB justru jadi guyonan. Ini hanya menyebut sedikit contoh, pendidikan bebas JB masih memberi peluang perbaikan nasib anak bangsa.
Siswa JB tentu tidak sekadar hapal mars de Britto karya romo L Moerabi SJ. Tapi mereka harus sadar di pundak mereka terletak kelangsungan pendidikan bebas. Selamat ulang tahun JB !!
PENULIS M BASUKI SUGITA, ALUMNI JB ANGKATAN 82 TINGGAL DI KUDUS, JAWA TENGAH