olahraga

DJARUM YANG MEMULAI, PEMERINTAH YANG MENGAKHIRI

Suara Merdeka, 27 Juni 2006

Perusahaan Rokok (PR) Djarum Kudus akhir Mei lalu meresmikan pembangunan gedung bulutangkis mewah dan representatif. Dana sekitar Rp 30 miliar dikucurkan dari kantong pribadi Djarum. Ini jelas bukan proyek kecil-kecilan. Sarana GOR Jati sebagai pengganti GOR Kaliputu milik PBDjarum ini tidak kalah lengkap dibanding pelatnas Cipayung milik PB PBSI. Ditengah keterpurukan prestasi bulutangkis nasional dipentas dunia, menarik mencermati ada apa dibalik ini semua. Apakah PB Djarum ingin mengambilalih kinerja PB PBSI yang dituding banyak pihak menjadi salah satu faktor keterpurukan bulutangkis nasional ?

Pembangunan GOR Jati hanya salah satu faktor pengembangan prestasi bulutangkis. Sarana lengkap ditambah pelatih jempolan tidak akan berarti banyak jika proses pmbibitan berjalan lamban. Suka atau tidak suka faktor bibit atlit kecil bulutangkis sekarang ini mandek. Keterpurukan bulutangkis nasional saling tali-temali dan dibutuhkan kearifan dan kerjasama semua pihak untuk mengangkat kembali pamor badminton.

Secara garis besar generasi muda di negeri ini kebanyakan penggemar olahraga sepakbola. Seperti dinegara-negara lain sepakbola tercatat yang paling banyak penggemarnya. Setelah sepakbola ada beberapa cabang olahraga yang menarik minat kawula muda, diantaranya bulutangkis, bola voli dan basket.

Melihat indikator pemberitaan media cetak dan elektronik, boleh dikatakan basket sedikit lebih unggul. Sejumlah peran di sinetron remaja dilayar kaca teve swasta memakai kasting basket bukan sepakbola apalagi bulutangkis. Bagi anak muda sebagai pebasket lebih membanggakan dibanding pebulutangkis. Meskipun sehari-hari anak tersebut bisa saja penggemar berat sepakbola. Iklan-iklan teve pun yang menampilkan corak anak muda juga menyajikan basket sebagai keseharian.

Selama ini proses perekrutan PB Djarum dan klub-klub bulutangkis yang lain di Tanah Air dilakukan dengan dua cara. Yakni memantau disejumlah even pertandingan diluar kota dan proses pembinaan atlit cilik usia dini. Setelah ditemukan atlit berprestasi, anak tersebut diundang ikut seleksi penerimaan di PB Djarum. Kalau memenuhi standar prestasi yang sudah dibakukan anak tersebut diberi kesempatan masuk ke PB Djarum.

Sementara pembinaan atlit cilik khususnya dilingkup Kudus yang sudah dilakukan PB Djarum boleh dikatakan sejauh ini gagal total !!. Paling tidak kalau mengacu prestasi pebulutangkis 10 tahun terakhir. Atlit cilik asli Kudus yang terakhir moncer di pentas internasional lewat proses panjang PB Djarum adalah tunggal putra Haryanto Arbi dan Budi Santosa di era 90’an. Padahal di era 80’an PB Djarum banyak menelurkan atlit berbakat asli Kudus antara lain Liem Swie King, kakak beradik Hastomo Arbi dan Edi Hartono.

Tentu saja pencarian bakat unggul bukan semata tugas Djarum saja. Pemerintah dalam hal ini Pemkab Kudus juga punya tugas mencari bibit-bibit unggul untuk dibina PB Djarum yang sudah bersusah-payah membangun sarana mahal. Bibit unggul harus dicari dan ditemukan. Atlit cilik usia dini tidak akan turun dari langit. Atlit berprestasi harus dibina sungguh-sungguh kalau ingin mencetak prestasi internasional.

Kerjasama PB Djarum dan Pemkab Kudus mutlak diperlukan. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan pemkab untuk mendukung keberadaan GOR Jati. Dukungan tidak hanya diberikan kepada atlit cilik asli Kudus namun dalam arti luas mendukung proses pembinaan atlit PB Djarum.

Dukungan pertama yang harus dilakukan adalah menggairahkan minat generasi muda untuk menggeluti bulutangkis. Antara lain memperbanyak even-even pertandingan bulutangkis mulai tingkat SD, SMP dan SMA. Meski terlambat rencana even seperti turnamen Kretek Cup I akhir Juni ini di Kudus patut disambut gembira. Pada turnamen Se Eks Karesidenan Pati ini digelar kejuaraan bulutangkis tingkat Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), Umum sampai Veteran. Diharapkan turnamen seperti Kretek Cup bisa rutin dilaksanakan saban tahun.

Pemkab Kudus bisa menjadi pioner pengembangan bulutangkis di daerah-daerah dengan menjadikan badminton sebagai olahraga wajib disekolah. Pihak Djarum bisa membantu menyediakan sarana dan prasarana seperti kok-kok bekas dan gratis untuk dibagikan ke sekolah-sekolah.

Langkah berikut yang perlu diambil adalah membantu pendidikan para atlit. Perlu diketahui latihan bulutangkis dan pendidikan formal harus berjalan seiring. Langkah Djarum yang tetap mewajibkan atlit binaannya sekolah perlu diacungi jempol. Pasalnya atlit di klub-klub lain tidak perlu sekolah formal lagi. Padahal seorang atlit belum tentu akan berhasil mencetak prestasi maksimal dikemudian hari. Gangguan cedera dan kurang berkembang prestasi bisa ditutupi dengan melanjutkan sekolah.

Bagi atlit binaan PB Djarum tawaran beasiswa dari Pemkab Kudus akan meringankan beban orang tua alit. Selama ini atlit PB Djarum disokong biaya hidupnya namun tetap keluar uang sekolah sendiri. Sehingga atlit selama menjalani latihan di Kudus tidak perlu pusing memikirkan biaya pendidikan. Memang pemerintah telah menggulirkan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Namun sejujurnya dana itu masih kurang, misalkan untuk membeli buku-buku pelajaran dan kebutuhan sekolah lain.

Mekanisme pembiayaan sekolah gratis akan menguntungkan kedua belah pihak baik Djarum maupun Pemkab Kudus. Sekolah gratis bisa menjadi magnet atlit lain diluar kota untuk tertarik masuk PB Djarum. Karena mereka telah dijamin pendidikan selama berlatih bulutangkis di Kudus. Bagi Pemkab sendiri akan mendulang nama baik karena ikut memikirkan kebutuhan atlit yang berlatih di Kudus. Lagi pula pada even-even tertentu seperti Porda mereka bisa membela nama Kudus.

Selain beasiswa pemkab bisa mengatur tempat belajar atlit selama berlatih di Kudus. Selama ini nasib pendidikan atlit PB Djarum cukup mengenaskan. Mereka ditolak masuk disejumlah sekolah karena terpaksa masuk sekitar pukul 10.00 seusai latihan pagi. Demi menjamin kelangsungan pendidikan Pemkab dan Kantor P Dan K setempat bisa mengatur sekolah mana yang ditunjuk untuk mendidik atlit selama belajar tingkat SD, SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi. Untuk semua ini sarana dan prasarana di Kudus mencukupi.

Dilain pihak PR Djarum sebagai pemilik tunggal GOR Jati perlu lebih membuka diri. Bangunan megah itu saat ini bukan milik Djarum semata tapi sudah jadi kebanggaan masyarakat Kudus. Tanpa kepedulian pemerintah dan masyarakat, bangunan megah GOR Jati tidak ada artinya bagi prestasi bulutangkis nasional.

PENULIS : M BASUKI SUGITA, MANTAN PENDIDIK ATLIT PB DJARUM KUDUS TINGGAL DI DESA KALIPUTU, KUDUS

3 Tanggapan sejauh ini »

  1. 1

    johan Alif Syafrullah AS berkata,

    terus terang saya ingin belajar bulutangkis tapi tidak ada clup di Lamongan kalau boleh saya pingin belajar ke Kudus tapi terbentur biaya
    saya siswa SMP2 Lamongan pernah juara I tingkat kecamatan antar SMP,
    Juara III PORSENI th. 2008

  2. 2

    David berkata,

    Sy siswi sumatra utara,kota tnjg morawa,sy pgn bljr bdmtn,tp k’bntr sm biaya…
    Sy prnh jd juara 1antr kelas dan 8bsr dlm kejurnas…dn 8bsr dlm tgkt dærah

  3. 3

    Rita berkata,

    Sy siswì kelas x methodist tnjg morawa,sy pengen bljr bulutgks,kalau bs sy pgn msk skul pb djarum,sy prnh juara 1 dlm prtndg’n atnr kelas,8bsr dlm tgkt kabupaten,dan 8bsr dlm tgkt kejurda.
    Tlg bls komen sy y


RSS Komentar · URI Lacak Balik

Ungkapkan pendapat Anda